Tampilkan postingan dengan label materi epidemiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi epidemiologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 April 2011

RIWAYAT ALAMIAH PERJALANAN PENYAKIT

Jika ditinjau proses yang terjadi pada orang sehat, menderita penyakit dan terhentinya penyakit tersebut dikenal dengan nama riwayat alamiah perjalanan penyakit (natural history of disease) terutama untuk penyakit infeksi.
Riwayat alamiah suatu penyakit adalah perkembangan penyakit tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara natural.

MANFAAT
Manfaat riwayat mempelajari alamiah perjalanan penyakit :
  1. Untuk diagnostik : masa inkubasi dapat dipakai pedoman penentuan jenis penyakit, misal dalam KLB (Kejadian Luar Biasa)
  2. Untuk Pencegahan : dengan mengetahui rantai perjalanan penyakit dapat dengan mudah dicari titik potong yang penting dalam upaya pencegahan penyakit.
  3. Untuk terapi : terapi biasanya diarahkan ke fase paling awal. Pada tahap perjalanan awal penyakit, adalah waktu yang tepat untuk pemberian terapi, lebih awal terapi akan lebih baik hasil yang diharapkan.
TAHAPAN
Tahapan Riwayat alamiah perjalanan penyakit :

a.  Tahap Pre-Patogenesis
  • Pada tahap ini telah terjadi interaksi antara pejamu dengan bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih diluar tubuh manusia, dalam arti bibit penyakit berada di luar tubuh manusia dan belum masuk kedalam tubuh pejamu. Pada keadaan ini belum ditemukan adanya tanda – tanda penyakit dan daya tahan tubuh pejamu masih kuat dan dapat menolak   penyakit. Keadaan ini disebut sehat.
b.  Tahap Patogenesis
    1)   Tahap Inkubasi
  • Tahap inkubasi adalah masuknya bibit penyakit kedalam tubuh pejamu, tetapi gejala- gejala penyakit belum nampak. Tiap-tiap penyakit mempunyai masa inkubasi yang berbeda, ada yang bersifat seperti influenza, penyakit kolera masa inkubasinya hanya 1- 2 hari, penyakit Polio mempunyai masa inkubasi 7 - 14 hari, tetapi ada juga yang bersifat menahun misalnya kanker paru-paru, AIDS dan sebagainya.
  • Jika daya tahan tubuh tidak kuat, tentu penyakit akan berjalan terus yang mengakibatkan terjadinya gangguan pada bentuk dan fungsi tubuh. Pada suatu saat penyakit makin bertambah hebat, sehingga timbul gejalanya. Garis yang membatasi antara tampak dan tidak tampaknya gejala penyakit disebut dengan horison klinik.

  2)  Tahap Penyakit Dini
  • Tahap penyakit dini dihitung mulai dari munculnya gejala-gejala penyakit, pada tahap ini pejamu sudah jatuh sakit tetapi sifatnya masih ringan. Umumnya penderita masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari dan karena itu sering tidak berobat. Selanjutnya, bagi yang datang berobat umumnya tidak memerlukan perawatan, karena penyakit masih dapat diatasi dengan berobat jalan.
  • Tahap penyakit dini ini sering menjadi masalah besar dalam kesehatan masyarakat, terutama jika tingkat pendidikan penduduk rendah, karena tubuh masih kuat mereka tidak datang berobat, yang akan mendatangkan masalah lanjutan, yaitu telah parahnya penyakit yang di derita, sehingga saat datang berobat sering talah terlambat.

   3)  Tahap Penyakit Lanjut
  • Apabila penyakit makin bertambah hebat, penyakit masuk dalam tahap penyakit lanjut. Pada tahap ini penderita telah tidak dapat lagi melakukan pekerjaan dan jika datang berobat, umumnya telah memerlukan perawatan.

     4)  Tahap Akhir Penyakit
  • Perjalanan penyakit pada suatu saat akan berakhir. Berakhirnya perjalanan penyakit tersebut dapat berada dalam lima keadaan, yaitu : 
  1. Sembuh sempurna : penyakit berakhir karena pejamu sembuh secara sempurna, artinya bentuk dan fungsi tubuh kembali kepada keadaan sebelum menderita penyakit.
  2. Sembuh tetapi cacat : penyakit yang diderita berakhir dan penderita sembuh. Sayangnya kesembuhan tersebut tidak sempurna, karena ditemukan cacat pada pejamu. Adapun yang dimaksudkan dengan cacat, tidak hanya berupa cacat fisik yang dapat dilihat oleh mata, tetapi juga cacat mikroskopik, cacat fungsional, cacat mental dan cacat sosial.
  3. Karier : pada karier, perjalanan penyakit seolah-olah terhenti, karena gejala penyakit memang tidak tampak lagi. Padahal dalam diri pejamu masih ditemukan bibit penyakit yang pada suatu saat, misalnya jika daya tahan tubuh berkurang, penyakit akan timbul kembali. Keadaan karier ini tidak hanya membahayakan diri pejamu sendiri, tetapi juga masyarakat sekitarnya, karena dapat menjadi sumber penularan
  4. Kronis : perjalanan penyakit tampak terhenti karena gejala penyakit tidak berubah, dalam arti tidak bertambah berat dan ataupun tidak bertambah ringan. Keadaan yang seperti tentu saja tidak menggembirakan, karena pada dasarnya pejamu tetap berada dalam keadaan sakit.
  5. Meninggal dunia : terhentinya perjalanan penyakit disini, bukan karena sembuh, tetapi karena pejamu meninggal dunia. Keadaan seperti ini bukanlah tujuan dari setiap tindakan kedokteran dan keperawatan.
c. Tahap Post Patogenesis
  • Tahap penyakit akhir → tahap berakhirnya perjalanan penyakit, dapat dalam bentuk;
  • Sembuh sempurna → Agent hilang, Host pulih dan sehat kembali
  • Sembuh dengan cacat → Agent hilang, penyakit tidak ada → Host tidak pulih sempurna (ada bekas gangguan/cacat)
  • Karier →Agent masih ada, Host pulih → gangguan Agent masih ada (minimal)

    Senin, 28 Maret 2011

    SCREENING



    DEFENISI
    • Screening adalah proses yang dimaksud untuk mengidentifikasi penyakit-penyakit yang tidak diketahui/tidak terdeteksi dengan menggunakan berbagai test/uji yang dapat diterapkan secara tepat dalam sebuah skala yang benar
    • Screening atau penyaringan kasus (Uji Tapis) adalah cara untuk mengidentifikasi penyakit yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan atau prosedur lain yang dapat dengan cepat memisahkan antara orang yang mungkin menderita penyakit dengan orang yang mungkin tidak menderita.
    • Uji tapis bukan untuk mendiagnosis tapi untuk menentukan apakah yang bersangkutan memang sakit atau tidak kemudian bagi yang  didiagnosisnya positif dilakukan pengobatan intensif agar tidak menular
    • Screening pada umumnya bukan merupakan uji diagnostik dan oleh karenanya memerlukan penelitian (follow-up) yang cepat dan pengobatan yang tepat pula.

    TUJUAN SCREENING :
    1. Deteksi dini penyakit tanpa gejala atau dengan gejala tidak khas terhadap orang- orang yang tampak sehat, tetapi mungkin menderita penyakit, yaitu orang yang mempunyai resiko tinggi terkena penyakit (Population at risk).
    2. Dengan ditemukan penderita tanpa gejala dapat dilakukan pengobatan secara tuntas sehingga tidak membahayakan dirinya atau lingkungan dan tidak menjadi sumber penularan penyakit.

    SASARAN
    Sasaran penyaringan adalah penyakit kronis seperti :
    • Infeksi Bakteri (Lepra, TBC dll.)
    • Infeksi Virus (Hepatitis)
    • Penyakit Non-Infeksi : (Hipertensi, Diabetes Mellitus, Jantung Koroner, Ca Serviks, Ca Prostat, Glaukoma)
    • HIV-AIDS

    PROSES PENYARINGAN
    Proses pelaksanaan sceening adalah :
    1. Tahap 1 : melalukan pemeriksaan terhadap kelompok penduduk yang dianggap mempunyai resiko tinggi menderita penyakit.
    •  Apabila hasil negatif, dianggap orang tersebut tidak menderita penyakit.
    • Apabila hasil positif dilakukan pemeriksaan tahap 2
        2. Tahap 2 : pemeriksaan diagnostik
    • Hasilnya positif maka dianggap sakit dan mendapat pengobatan.
    • Hasilnya negatif maka dianggap tidak sakit (dilakukan pemeriksaan ulang secara periodik).
    PRINSIF PELAKSANAAN
    Pemeriksaan tersebut harus dapat dilakukan:
    1. Dengan cepat dapat memilah sasaran untuk pemeriksaan lebih lanjut
    2. Tidak mahal
    3. Mudah dilakukan oleh petugas kesehatan
    4. Tidak membahayakan yang diperiksa maupun yang memeriksa.
    MACAM SCREENING
    a. Penyaringan Massal (Mass Screening)
    b. Penyaringan  Multiple
    c. Penyaringan yang Ditargetkan
    d. Penyaringan Oportunistik
      KRITERIA UNTUK MELAKSANAKAN SCREENING
      1. Sifat Penyakit
          * Serius
          * Prevalensi tinggi pada tahap praklinik
          * Priode yang panjang diantara tanda-tanda pertama sampai timbulnya penyakit
      2. Uji Diagnostik
          * Sensitif dan Spesifik
          * Sederhana dan murah
          * Aman dan dapat diterima
          * Reliable
          * Fasilitas adekwat
      3. Diagnosis dan Pengobatan
          * Efektif dan dapat diterima
          * Pengobatan yang aman telah tersedia.

          Agar hasil pengukuran dari  penyaringan /screening  itu valid, maka harus diukur dengan menggunakan sensitivitas & spesifitas.

      SENSITIVITAS
      Sensitivitas (sensitivity) : kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil tes positif dan benar sakit.
      Sensitivitas = a/a+c

      SPESIFISITAS
      Spesifisitas (specificity) : kemampuan suatu tes untuk mengidentifikasi individu dengan tepat, dengan hasil negatif dan benar tidak sakit.
      Spesivisitas = d/b+d

      POSITIVE PREDICTIVE VALUE (PPV)
      Persentase pasien yang menderita sakit dengan hasil test Positive.
      PPV = a/a+b

      NEGATIVE PREDICTIVE VALUE (NPV)
      Persentase pasien yang tidak menderita sakit dengan hasil test negative.
      NPV = d/c+d

       KRITERIA EVALUASI
      A. Validitas : merupakan tes awal baik untuk memberikan indikasi individu mana yang benar sakit dan mana yang tidak sakit. Doa komponen validitas adalah sensitivitas dan spesifitas
      B. Reliabilitas : adalah bila tes yang dilakukan berulang-ulang menunjukkan hasil yang konsisten
      C. Yiel : merupakan jumlah penyakit yang terdiagnosis dan diobati sebagai hasil dari uji tapis.

      Beberapa Pertimbangan Pelaksanaan Uji Tapis:
      1. 1.Kondisi penyakit yang akan diskrining harus merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat penting
      2. 2.Harus ada cara pengobatan/ pengawasan untuk penderita yang ditemukan dalam penyaringan
      3. 3.Fasilitas untuk diagnostik dan pengobatan tersedia
      4. 4.Harus dikenal stadium simtomatik dini & masa laten
      5. Harus ada cara pemeriksaan (test) yang cocok
      6. Pemeriksan yang dilakukan harus tidak berbahaya dan dapat diterima masyarakat
      7. Pemeriksaan skrining memenuhi syarat untuk tingkat sensitivitas dan spesivitas
      8. Sifat perjalanan penyakit diketahui dengan pasti  
      9. Ada standar yang disepakati tentang mereka yang menderita penyakit
      10. Biaya yang digunakan seimbang dengan resiko biaya bila tanpa screening
      11. Penemuan kasus harus merupakan program berlanjut 
      12. Alat yang digunakan, waktu, aplikable, dapat dipertanggung jawabkan serta penderita mendapat pengobatan dengan alat untuk diagnosis yang tepat.

      Semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang epidemiologi, khususnya screening.. semoga Allah selalu menyertai kita dengan nitan yang benar dan baik..

      Sabtu, 19 Maret 2011

      EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR (PTM)

      EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR

      Epidemiologi penyakit Tidak menular lebih dikenal dengan Epidemiologi PTM ini berkembang sejalan dengan maraknya penyakit dimasyarakat yang menimbulkan penyakit dan masalah kesehatan..
      Pentingnyapengetahuan tentang penyakit tidak menular dilatar belakangi dengan kecendrungan semangkin meningkatnya prevalensi PTM dalam masyarakat. Perobahan pola struktur masyarakat agraris ke masyarakat industri banyak menjadi andil terhadap perubahan pola fertilitas, pola hidup, sosial ekonomi yang pada gilirannya memacu semangkit meningkatnya PTM. Keadaan ini ini lebih dikenal dengan Transisi epidemiologi
      A. PENDAHULUAN

      1. Berdasarkan perjalanannya penyakit dapat dibagi menjadi :
      • Akut
      • Kronis
      2.  Berdasarkan sifat penularannya dapat dibagi menjadi :
      • Menular
      • Tidak Menular
      3.  Proses terjadinya penyakit merupakan interaksi antara agen penyakit, manusia (Host) dan lingkungan sekitarnya.
      • Untuk penyakit menular, proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara : Agent penyakit (mikroorganisme hidup), manusia dan lingkungan
      • Untuk penyakit tidak menular proses terjadinya penyakit akibat interaksi antara agen penyakit (non living agent), manusia dan lingkungan.
      4.  Penyakit tidak menular dapat bersifat akut dapat juga bersifat kronis.

      5.  Pada Epidemiologi Penyakit tidak Menular terutama yang akan dibahas adalah penyakit-      penyakit yang bersifat kronis.

      6.  Kepentingan :
      • Penyakit-penyakit tidak menular yang bersifat kronis sebagai penyebab kematian mulai menggeser kedudukan dari penyakit-penyakit infeksi
      • Penyakit tidak menular mulai meningkat bersama dengan life-span (pola hidup) pada masyarakat.
      • Life – span meningkat karena adanya perubahan-perubahan didalam : kondisi sosial ekonomi, kondisi hygiene sanitasi, meningkatnya ilmu pengetahuan, perubahan perilaku

      PENYAKIT - PENYAKIT TIDAK MENULAR YANG BERSIFAT KRONIS
      1.  Penyakit yang termasuk di dalam penyebab utama kematian, yaitu :
      • Ischaemic Heart Disease
      • Cancer
      • Cerebrovasculer Disease
      • Chronic Obstructive Pulmonary Disease
      • Cirrhosis
      • Diabetes Melitus

      2.  Penyakit yang termasuk dalam special – interest , banyak menyebabkan masalah kesehatan      tapi jarang frekuensinya (jumlahnya), yaitu :
      • Osteoporosis
      • Penyakit Ginjal kronis
      • Mental retardasi
      • Epilepsi
      • Lupus Erithematosus
      • Collitis ulcerative
      3.   Penyakit yang termasuk akan menjadi perhatian yang akan datang, yaitu :
      • Defisiensi nutrisi
      • Akloholisme
      • Ketagihan obat
      • Penyakit-penyakit mental
      • Penyakit yang berhubungan dengan lingkungan pekerjaan.
      FAKTOR-FAKTOR RESIKO
      1.  Faktor resiko untuk timbulnya penyakit tidak menular yang bersifat kronis belum      ditemukan secara keseluruhan,
      • Untuk setiap penyakit, faktor resiko dapat berbeda-beda (merokok, hipertensi, hiperkolesterolemia)
      • Satu faktor resiko dapat menyebabkan penyakit yang berbeda-beda, misalnya merokok, dapat menimbulkan kanker paru, penyakit jantung koroner, kanker larynx.
      • Untuk kebanyakan penyakit, faktor-faktor resiko yang telah diketahui hanya dapat menerangkan sebagian kecil kejadian penyakit, tetapi etiologinya secara pasti belum diketahui
      2.  Faktor-faktor resiko yang telah diketahui ada kaitannya dengan penyakit tidak menular      yang bersifat kronis antara lain :
      • Tembakau
      • Alkohol
      • Kolesterol
      • Hipertensi
      • Diet
      • Obesitas
      • Aktivitas
      • Stress
      • Pekerjaan
      • Lingkungan masyarakat sekitar
      • life style

      KARAKTERISTIK PENYAKIT TIDAK MENULAR
      Telah dijelaskan diatas bahwa penyakit tidak menular terjadi akibat interaksi antara agent (Non living agent) dengan host dalam hal ini manusia (faktor predisposisi, infeksi dll) dan lingkungan sekitar (source and vehicle of agent)
      1. Agent
      a. Agent dapat berupa (non living agent) :
      •  Kimiawi
      •  Fisik
      •  Mekanik
      •  Psikis
      b. Agent penyakit tidak menular sangat bervariasi, mulai dari yang paling sederhana sampai yang komplek (mulai molekul sampai zat-zat yang komplek ikatannya)
      c. Suatu penjelasan tentang penyakit tidak menular tidak akan lengkap tanpa mengetahui spesifikasi dari agent tersebut
      d. Suatu agent tidak menular dapat menimbulkan tingkat keparahan yang berbeda-beda (dinyatakan dalam skala pathogenitas)
      Pathogenitas Agent : kemampuan / kapasitas agent penyakit untuk dapat menyebabkan sakit pada host
      e. Karakteristik lain dari agent tidak menular yang perlu diperhatikan antara lain :
      • Kemampuan menginvasi / memasuki jaringan
      • Kemampuan merusak jaringan : Reversible dan irreversible
      • Kemampuan menimbulkan reaksi hipersensitif

      2. Reservoir
      a. Dapat didefinisikan sebagai organisme hidup, benda mati (tanah, udara, air batu dll) dimana agent dapat hidup, berkembang biak dan tumbuh dengan baik.
      b. Pada umumnya untuk penyakit tidak menular, reservoir dari agent adalah benda mati.
      c. Pada penyakit tidak menular, orang yang terekspos/terpapar dengan agent tidak berpotensi sebagai sumber/reservoir tidak ditularkan.

      3. Relasi Agent – Host
      a. Fase Kontak
          Adanya kontak antara agent dengan host, tergantung :
      • Lamanya kontak
      • Dosis
      • Patogenitas
      b. Fase Akumulasi pada jaringan
      Apabila terpapar dalam waktu lama dan terus-menerus

      c. Fase Subklinis
      Pada fase subklinis gejala/sympton dan tanda/sign belum muncul
      Telah terjadi kerusakan pada jaringan, tergantung pada :
      •  Jaringan yang terkena
      •  Kerusakan yang diakibatkannya (ringan, sedang dan berat)
      •  Sifat kerusakan (reversiblle dan irreversible/ kronis, mati dan cacat)
      d. Fase Klinis
      Agent penyakit telah menimbulkan reaksi pada host dengan menimbulkan manifestasi (gejala dan tanda).

      4. Karakteristik penyakit tidak menular :
      a. Tidak ditularkan
      b. Etiologi sering tidak jelas
      c. Agent penyebab : non living agent
      d. Durasi penyakit panjang (kronis)
      e. Fase subklinis dan klinis panjang untuk penyakit kronis.

      5. Rute dari keterpaparan
      Melalui sistem pernafasan, sistem digestiva, sistem integumen/kulit dan sistem vaskuler.

      RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT

      A. PROSES TERJADINYA PENYAKIT
      1. Proses terjadinya penyakit tergantung pada :
      a. Karakterisitik dari agent
      b. Karakteristik dari Host
      c. Karakteristik dari environment

      2. Pada penyakit Menular
      Manusia mempertahankan keseimbangan untuk tetap sehat melawan :
      a. Agent (living organisme)
      b. Kondisi lingkungan yang sesuai dengan organisme tersebut
      c. Faktor predisposisi

      3. Pada Penyakit Tidak Menular
      Manusia mempertahankan keseimbangan untuk tetap sehat melawan :
      a. Agent (non living organisme)
      b. Kondisi lingkungan yang sesuai dengan organisme tersebut
      c. Faktor predisposisi

      B. RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT
      1. Definisi Riwayat Alamiah Penyakit :
      a. Perkembangan penyakit tanpa campur tangan medis atau bentuk intervensi lainnya sehingga suatu penyakit berlangsung secara natural
      b. Adanya respon dari host terhadap stimulus dari interaksi agent dan environment

      2. Tahapan :
      a. Prepathogenesis
      1) Faktor-faktor : hereditas, ekonomi, sosial, lingkungan fisik, psikis
      stimulus penyakit
      2) Stimulus dapat terjadi sebelum terjadinya interaksi antara stimulus dan manusia
      3) Interaksi awal antara faktor –faktor host, agent dan environment disebut periode prepathogenesis

      b. Pathogenesis
      Mulai saat terjadinya terjadinya kelainan /gangguan pada tubuh manusia akibat interaksi antara stimulus penyakit dengan manusia sampai terjadinya : kesembuhan, kematian, kronik dan cacat.

      Pada pembahasan diatas tidak dijelaskan tentang kondisi orang sebelum terinfeksi, tetapi mempunyai resiko untuk terkena suatu penyakit. Untuk mengatasi kekurangan ini, perjalanan penyakit dikembangkan menjadi :

      a. Fase Suseptibilitas (Tahap Peka)
      1) Pada fase ini penyakit belum berkembang, tapi mempunyai faktor resiko atau predisposisi untuk terkena penyakit .
      2) Faktor resiko tersebut dapat berupa
      a) Genetika /etnik
      b) Kondisi fisik, misalnya : kelelahan, kurang tidur dan kurang gizi.
      c) Jenis kelamin
      Wanita mempunyai resiko lebih tinggi untuk terkena penyakit Diabetes mellitus dan reumatoid artritis dibandingkan dengan pria dan sebaliknya pria mempunyai resiko lebih tinggi terkena penyakit jantung dan hipertensi dibandingkan wanita.
      d) Umur
      Bayi dan balita yang masih rentan terhadap perubahan lingkungan mempunyai resiko yang tinggi terkena penyakit infeksi sedangkan pada usia lanjut mempunyai resiko untuk terkena penyakit jantung dan kanker.
      e) Kebiasaan hidup
      Kebiasaan hidup yang kurang sehat seperti merokok mempunyai resiko untuk terkena penyakit jantung dan karsinoma paru-paru.
      f) Sosial ekonomi
      Tingkat sosial ekonomi yang rendah mempunyai resiko terkena penyakit infeksi sedangkan tingkat sosial yang tinggi mempunyai resiko terkena penyakit hipertensi, penyakit jantung koroner, gangguan kardiovaskuler dll, karena pada dengan tingkat sosial ekonomi yang tinggi mempunyai kecenderungan untuk terjadinya perubahan pola konsumsi makanan dengan kadar kolesterol tinggi.
      3) Untuk menimbulkan penyakit, faktor-faktor diatas dapat berdiri sendiri atau kombinasi beberapa faktor.
      Contoh :
      • Kadar kolesterol meningkat akan mengakibatkan terjadinya penyakit jantung koroner.
      • Kelelahan, alkoholik merupakan kondisi yang suseptibel untuk terjadinya Hepatitis

      b. Fase Subklinis
      1) Disebut juga fase Presimptomatik
      2) Pada tahap ini penyakit belum bermanifestasi dengan nyata (sign dan symptom masih negatif) , tapi telah terjadi perubahan-perubahan dalam jaringan tubuh (Struktur ataupun fungsi)
      3) Kondisi seperti diatas dikatakan dalam kondisi “Below The Level of clinical horizon”
      4) Fase ini mempunyai ciri-ciri :
      • Perubahan akibat infeksi atau pemaparan oleh agen penyebab penyakit masih belum nampak
      • Pada penyakit infeksi terjadi perkembangbiakan mikroorganisme patogen sedangkan pada penyakit non – infeksi merupakan periode terjadinya perubahan anatomi dan histologi, misalnya terjadinya ateroskelotik pada pembuluh darah koroner yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah.
      c. Fase Klinis
      1) Pada fase ini perubahan-perubahan yang terjadi pada jaringan tubuh telah cukup untuk memunculkan gejala-gejala (symptom) dan tanda-tanda (signs) penyakit.
      2) Fase ini dibagi menjadi fase akut dan kronis.

      d. Fase Konvalescen
      1) Akhir dari fase klinis dapat berupa :
          # Fase Konvalescen (Penyembuhan)
          # Meninggal dunia
      2) Fase konvalescen dapat berkembang menjadi :
          # Sembuh total
          # Sembuh dengan cacat (Disabilitas atau sekuele)
          # Penyakit menjadi kronis
      3) Disabilitas (Kecacatan/ketidakmampuan)
          # Terjadi penurunan fungsi sebagian atau keseluruhan dari struktur/organ tubuh tertentu sehingga menurunkan fungsi aktivitas seseorang secara keseluruhan
          # Dapat bersifat : sementara (akut), kronis dan menetap
      4) Sekuele
          # Lebih cenderung kepada adanya defect/cacat pada struktur jaringan sehingga menurunkan fungsi jaringan dan tidak sampai menggangu aktivitas seseorang.

      C. USAHA PENCEGAHAN PENYAKIT
      Prinsif upaya pencegahan lebih baik dari sebatas pengobatan, Terdapat 4 tingkat pencegahan dalam epidemiologi penyakit tidak menular (PTM)
      Disesuaikan dengan riwayat alamiah penyakit, maka tindakan preventif terhadap penyakit secara garis besar dapat dikategorikan menjadi :
      1. Pencegahan Premordial.                                                                                                              Berupa upaya untuk memberikan kondisi pada masyarakat yang memungkinkan penyakit tidak dapat berkembang karena tidak adanya peluang dan dukungan dari kebiasaan, gaya hidup maupun kondisi lain yang merupakan faktor resiko untuk munculnya suatu penyakit.
      2. Pencegahan Tingkat Pertama:                                                                                                 a)Promosi kesehatan masyarakat
        b)Pencegahan khusus
         
      3. Pencegahan Tingkat Kedua:                                                                                                              a) Diagnosa Dini
        b) Pengobatan

      4. Pencegahan Tingkat Ketiga;                                                                                                             Dengan cara Rehabilitasi

      Senin, 14 Maret 2011

      KEJADIAN LUAR BIASA

      Kejadian Luar Biasa
      Pengertian
      a. Wabah
      •Wabah menurut P2 MPLP merupakan suatu peningkatan kejadian kesakitan atau Ke † yg meluas secara cepat, baik jumlah maupun luas daerah yang terjangkit

      •Wabah menurut UU-RI Nomor 4 thn 1984 dapat dikatakam sama dengan epidemi yaitu: “ merupakan kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi …. Dari keadaan yang lazim pada waktu & daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka
      Wabah Adalah berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Menteri menetapkan dan mencabut daerah tertentu dalam wilayah Indonesia yang terjangkit wabah sebagai daerah wabah.

      b. Kejadian Luar Biasa (KLB)

      1) Yaitu suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu.” (Peraturan Menteri Kesehatan No.949/Menkes/SK/VIII/2004).

      2) Kejadian Luar Biasa (KLB) yaitu munculnya penyakit di luar kebiasaan (base line condition) yang terjadi dalam waktu relatif singkat serta memerlukan upaya penanggulangan secepat mungkin, karena dikhawatirkan akan meluas, baik dari segi jumlah kasus maupun wilayah yang terkena persebaran penyakit tersebut. Kejadian luar biasa pertama di Indonesia dilaporkan oleh David Beylon di Batavia (Jakarta) pada tahun 1779.

      3) KLB adalah peningkatan penderita penyakit yang memenuhi kriteria defenisi wabah dan kejadian tersebut terbatas pada suatu daerah serta tidak dapat ditanggulangi sendiri oleh pemerintah daerah

      4) KLB adalah Peningkat penderita penyakit yang memenuhi kriteria defenisi wabah dan penanggulangannya membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat

      Batasan KLB meliputi arti yang luas:

      1. Meliputi semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut kronis ataupun penyakit non infeksi.
      2. Tidak ada batasan yang dapat dipakai secara umum untuk menentukan jumlah penderita yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena jumlah kasus sangat tergantung dari jenis dan agen penyebabnya, juga karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut tempat (tempat tinggal, pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim) dan pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya.
      3. Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai untuk menentukan KLB, apakah dusun, desa, kecamatan, kabupaten atau meluas satu propinsi dan negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari cara penularan penyakit tersebut.
      4. Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. KLB dapat terjadi dalam beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan maupun tahun.

      Kriteria Kerja KLB
      1. Timbulnya suatu penyakit/menular yg sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
      2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya
      3. Peningkatan kejadian/kematian ≥ 2 x dibandingkan dengan periode sebelumnya
      4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan ≥ 2 x bila dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya
      5.Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan ≥ 2 x dibandingkan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya
      6. CFR suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukkkan kenaikan 50% atau lebih dibanding CFR periode sebelumnya
      7. Proporsional Rate penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan ≥ 2 x dibandingkan periode yg sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya
      8. Beberapa penyakit khusus: Kholera, DHF/DSS:
      a. Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pd daerah endemis) Terdapat satu/lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit tersebut
      9. Beberapa penyakit yg dialami 1 atau lebih penderita:
      a. Keracunan makanan
      b. Keracunan pestisida

      Menilai keadaan Wabah/KLB dibutuhkan penetapan Heard Immunity
      Heard immunity adalah pertahanan kelompok / pertahanan sekelompok masyarakat terhadap masuknya dan menyebarnya agen infeksi, karena sebagian besar anggota kelompok tersebut memiliki daya tahan terhadap infeksi yang berbeda –beda. Kekebalan kelompok diakibatkan oleh menurunnya peluang penularan bibit penyakit dari penderita yang terinfeksi kepada orang sehat yang rentan bila sebagian besar anggota kelompok tersebut memiliki ketahanan yang tinggi terhadap penyakit itu. Herd Immunity bisa dikatakan jika bahwa antara masyarkat yang kebal dan tidak kebal terhadap suatu penyakit tidak mengelompok sendiri-sendiri sehingga penyebaran penyakit bisa menurun dalam suatu kelompok tertentu. Teori Herd immunity menyatakan bahwa, dalam penyakit menular yang ditularkan dari individu ke individu, rantai infeksi mungkin akan terganggu ketika sejumlah besar populasi kebal terhadap penyakit. Semakin besar proporsi individu yang kebal, semakin kecil kemungkinan bahwa individu rentan akan datang ke dalam kontak dengan individu menular.

      Upaya Penanggulangan KLB:

      Program Penanggulangan KLB adalah suatu proses manajemen yang bertujuan agar KLB tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Pokok program penanggulangan KLB adalah identifikasi ancaman KLB secara nasional, propinsi dan kabupaten/kota; upaya pencegahan terjadinya KLB dengan melakukan upaya perbaikan kondisi rentan KLB;
      a. penyelenggaraan SKDKLB,
      b. kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan adanya KLB dan
      c. tindakan penyelidikan dan penanggulangan KLB yang cepat dan tepat.
      Kajian Epidemiologi Ancaman KLB
      Untuk mengetahui adanya ancaman KLB, maka dilakukan kajian secara terus menerus dan sistematis terhadap berbagai jenis penyakit berpotensi KLB dengan menggunakan bahan kajian dan surveilans aktif dari setiap puskesmas meliputi:
      a. data surveilans epidemiologi penyakit berpotensi KLB,
      b. kerentanan masyarakat, antara lain status gizi dan imunisasi,
      c. kerentanan lingkungan,
      d. kerentanan pelayanan kesehatan,
      e. ancaman penyebaran penyakit berpotensi KLB dari daerah atau negara lain,
      f. sumber data lain dalam jejaring surveilans epidemiologi.

      Sumber data surveilans epidemiologi penyakit berpotensi KLB adalah :
      a. laporan KLB/wabah dan hasil penyelidikan KLB,
      b. data epidemiologi KLB dan upaya penanggulangannya,
      c. surveilans terpadu penyakit berbasis KLB,
      d. sistem peringatan dini-KLB di rumah sakit .
      Berdasarkan kajian epidemiologi dirumuskan suatu peringatan kewaspadaan dini KLB pada daerah dan periode waktu tertentu.

      Pencegahan KLB
      Peringatan kewaspadaan dini KLB dan atau terjadinya peningkatan KLB pada daerah tertentu dibuat untuk jangka pendek (periode 3-6 bulan yang akan datang) dan disampaikan kepada semua unit terkait di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Propinsi, Departemen Kesehatan, sektor terkait dan anggota masyarakat, sehingga mendorong peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap KLB di Unit Pelayanan Kesehatan dan program terkait serta peningkatan kewaspadaan masyarakat perorangan dan kelompok
      Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menyelenggarakan kegiatan sebagai berikut :
      1. Menyebar luaskan informasi perkembangan penyakit berpotensi KLB dan adanya ancaman KLB kepada program terkait di lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, dan sektor terkait di kabupaten/kota secara teratur setiap bulan.
      2. Apabila teridentifikasi adanya ancaman KLB yang sangat penting dan mendesak, maka dalam waktu secepat-cepatnya memberikan peringatan kewaspadaan dini KLB kepada program terkait dilingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sector terkait kabupaten/kota, Unit Pelayanan Kesehatan di Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Propinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berbatasan dan masyarakat
      3. Memberikan informasi perkembangan penyakit berpotensi KLB dan adanya ancaman KLB dalam jangka panjang untuk mendorong kesiapsiagaan KLB secara teratur setiap tahun.

      Contoh Prosedur Penanggulangan KLB/Wabah Penyakit Diare:
      Masa pra KLB Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan melaksanakan Sistem Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu melakukakukan langkah-langkah sebagai berikut:
      1. Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan logistik.
      2. Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas.
      3. Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat
      4. Memperbaiki kerja laboratorium
      5. Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain
      Tim Gerak Cepat (TGC) :
      Sekelompok tenaga kesehatan yang bertugas menyelesaikan pengamatan dan penanggulangan wabah di lapangan sesuai dengan data penderita puskesmas atau data penyelidikan epideomologis. Tugas /kegiatan meliputi:
      a. Pengamatan :
      • Pencarian penderita lain yang tidak datang berobat.
      • Pengambilan usap dubur terhadap orang yang dicurigai terutama anggota keluarga
      • Pengambilan contoh air sumur, sungai, air pabrik dll yang diduga tercemari dan
      sebagai sumber penularan.
      • Pelacakan kasus untuk mencari asal usul penularan dan mengantisipasi
      penyebarannya
      • Pencegahan dehidrasi dengan pemberian oralit bagi setiap penderita yang ditemukan
      di lapangan.
      • Penyuluhahn baik perorang maupun keluarga
      • Membuat laporan tentang kejadian wabah dan cara penanggulangan secara lengkap
      b. Pembentukan Pusat Rehidrasi
      Untuk menampung penderita diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan. Tugas pusat rehidrasi :
      • Merawat dan memberikan pengobatan penderita diare yang berkunjung.
      • Melakukan pencatatan nama,umur,alamatlengkap, masa inkubasi, gejala diagnosa dsb.
      • Memberikan data penderita ke Petugas TGC
      • Mengatur logistik
      • Mengambil usap dubur penderita sebelum diterapi.
      • Penyuluhan bagi penderita dan keluarga
      • Menjaga pusat rehidrasi tidak menjadi sumber penularan (isolisasi).
      • Membuat laporan harian, mingguan penderita diare yang dirawat.(yang diinfus,tidak
      diinfus)
      Membuat Laporan Kejadian KLB secara tertulis meliputi:
      • Melaporkan kasus menurut orang, tempat, waktu sesuai dengan kasus KLB
      • Melakukan pencatatan nama,umur,alamatlengkap, masa inkubasi, gejala diagnosa dsb.
      • Memberikan data penderita ke Petugas TGC
      • Membuat catatan prosedur penatalaksanaan yang sudah dilakukan.
      • Melakukan jumlah kasus yang tertangani dengan baik, yang sehat, rawat inap dan
      rekomendasi
      • Memastikan sumber penularan KLB bagi penyakit menular
      Melakukan Penyebarluasan Data KLB
      Menutup keadaan KLB sudah berakhir

      Kunjungi tulisan saya lainnya berkenaan dengan KLB ini pada ElviZ@Sehati.WordPress.com

      Jumat, 11 Maret 2011

      SURVEILANS

      DEFINISI SURVEILANS :
      • Survailans adalah suatu rangkaian proses pengamatan yang terus menerus, sistematik, dan berkesinambungan terhadap terjadinya penyebaran penyakit, kondisi yang memperbesar resiko penularan, dan masalah –masalah kesehatan lainnya dengan melakukan pengumpulan data, analisis dan interpretasi dan penyebaran interpretasi serta tindak lanjut perbaikan dan perubahan.
      • Menurut WHO : Suatu proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis, terus menerus dan penyebarluasan informasi kepada pihak terkait untuk melakukan tindakan.
      • Menurut CDC (Center of Disease Control) : pengumpulan, analisis dan interpretasi data kesehatan secara sistematis dan terus menerus, yang diperlukan untuk perencanaan, implementasi dan evaluasi upaya kesehatan masyarakat, dipadukan dengan diseminasi data secara tepat waktu kepada pihak-pihak yang perlu mengetahuinya
      • “Survailans Epidemiologi  adalah Analisis terus menerus secara sistematis terhadap penyakit  dan  atau masalah kesehatan  serta kondisi yang mempengaruhi resiko terjadinya penyakit atau masalah-masalah kesehatan melalui proses pengumpulan data, pengolahan dan penyebaran informasi epidemiologi untuk tindakan penanggulangan secara efektif dan efisien”
      TUJUAN :
      1. Memprediksi dan mendeteksi dini epidemi (outbreak)
      2. Memonitor, mengevaluasi, dan memperbaiki program pencegahan dan pengendalian penyakit,
      3. Memasok informasi utk penentuan prioritas, pengambilan kebijakan, perencanaan, implementasi dan alokasi sumber daya kesehatan.
      4. Monitoring kecenderungan (Tren) penyakit endemis dan mengestimasi dampak penyakit di masa mendatang.
      5. Mengidentifikasi kebutuhan riset dan investigasi lebih lanjut.
      Sebagaimana  diketahui bahwa  kegiatan yang paling efektif untuk memantau  penyakit dan masalah kesehatan yang terjadi di Puskesmas  adalah kegiatan Survailans Epidemiologi. Data-data yang didapat dari kegiatan survailans epidemiologi ini  merupakan data epidemiologi yang akan dipergunakan untuk :
      Pertama ; Mendukung program penanggulangan penyakit  dan masalah kesehatan maksudnya fungsi survailans epidemiologi sekarang bukan saja membahas tentang penyakit tetapi juga masalah-masalah kesehatan misalnya masalah program KIA, Gizi, Perilaku juga masalah pelayanan pengobatan.
      Kedua : Menentukan prioritas, kebijaksanaan, perencanaan.  pelaksanaan  dan evaluasi dan monitoring program pembangunan kesehatan di Kecamatan-kecamatan  di Suatu Kabupaten. Dan yang 
      Ketiga: kegunaan dari data-data epidemiologi adalah Pengendalian penyakit dan masalah keseatan serta  Deteksi dini Kejadian Luar Biasa (KLB)

      LINGKUP :
      1. Epidemic
      2. Penyakit infeksi (Penyakit Menular)
      3. Penyakit Tidak Menular
      4. Health Services Problem.
      5. Population Problem.
      6. Environment Problem

      SUMBER DATA (WHO) :
      1. Data Mortalitas (kematian)
      2. Data Morbiditas (Kesakitan)
      3. Data epidemik
      4. Laporan penggunaan laboratorium (hasil test lab.)
      5. Laporan investigasi kasus secara individual
      6. Laporan investigasi epidemik (penyelidikan wabah)
      7. Survei khusus (register penyakit, survei serologis)
      8. Informasi binatang sebagai reservoir dan vektor.
      9. Data demografik
      10. Data lingkungan.

      MANFAAT & KEGUNAAN :
      1. Mempelajari pola kejadian penyakit dan penyakit potensial pada populasi sehingga dapat efektif dalam investigasi, controling dan pencegahan penyakit di populasi.
      2. Mempelajari riwayat alamiah penyakit, spektrum klinik dan epidemiologi penyakit (siapa, kapan dan dimana terjadinya, serta keterpaparan faktor resiko)
      3. Menyediakan basis data yang dapat digunakan untuk memperkirakan tindakan pencegahan dan kontrol dalam pengembangan dan pelaksanaan.

      KEGIATAN RUTIN UNIT SURVEILANS :
      a)  Melaksanakan kegiatan surveilans
      • Pengumpulan data
      • Pengolahan dan penyajian
      • Analisis dan interpretasi
      • Penyebarluasan informasi dan rekomendasi
      b)  Penanggulangan KLB :
      • SKD KLB
      • Penyelidikan dan penanggulangan KLB
      c)  Pengembangan sistem surveilans termasuk
            pengembangan jaringan informasi
      d)  Koordinasi kegiatan surveilans : lintas program dan lintas sektoral

      JENIS SURVEILANS :

      a)  Surveilans aktif
      • Pengamatan kasus dilakukan secara langsung ke lapangan.
      • Hasil yang diperoleh lengkap dan jauh lebih baik
      • Dibutuhkannya dana dan tenaga khusus.
      b)  Surveilans pasif
      • Pengamatan kasus dilakukan secara tidak langsung, yaitu melalui laporan.
      • Hasil yang diperoleh kurang lengkap.

      ALASAN DILAKSANAKAN SURVEILANS :
      Surveilans beralasan untuk dilakukan jika dilatari kondisi :
      1. Beban penyakit (burden of disease) tinggi, sehingga merupakan masalah penting kesehatan masyarakat.
      2. Terdapat tindakan kesehatan masyarakat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.
      3. Data relevan mudah diperoleh
      4. Hasil yang diperoleh sepadan dengan upaya yang dilakukan (pertimbangan efisien).

      Dasar hukum untuk meletakkan Survailans sebagai sebuah kegiatan pokok di puskesmas adalah karena payung hukum dari apa yang dinamai dengan Survailan Epidemilogi telah ada dasar hukumnya  yaitu
      1. Undang-undang no. 4 th. 1984 tentang wabah
      2. Undang-undang no. 36 th. 2009 tentang Kesehatan.
      3. Per. Pemerintah no. 25 th. 2000 ttg. Kewenangan propinsi sbg daerah otonomi.
      4. SK. Menkes no. 130 th. 2000 ttg. Organisasi dan tata kerja Depkes.
      5. Kepmen 1116/Mkenkes/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelengaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular dan tidak Menular
      6. Dan sebenarnya masih ada  peraturan terbaru tentang penting survailan epidemiologi dan upaya pengendalian penyakit dan masalah kesehatan. Misalnya saja berbagai peraturan tentang Fungsionalitas Tenaga Epidemiologi Kesehatan.

        Senin, 07 Februari 2011

        PENGANTAR EPIDEMIOLOGI

        PENGANTAR EPIDEMIOLOGI

                Epidemiologi sebagai suatu ilmu, telah lama dipakai untuk menelusuri asal -usul dan penyebaran penyakit infeksi sera non infeksi pada intinya epidemiologi menekankan pada upaya menerangkan bagaimana frekuensi & distribusi penyakit serta bagaimana berbagai faktor dapat menjadi penyebab penyakit. Sehinga beberapa ahli epidemiologi mengemukakan bahwa, apabila telah mempunyai banyak pengalaman di lapangan, maka akan mampu mengungkapkan setiap masalah yang berhubungan dengan penyakit dan cara-cara pemecahan masalah tersebut.
                Untuk mengungkapkan dan menjawab masalah-masalah yang ada dimasyarakat tersebut, epidemiologi melakukan berbagai cara yang selanjutnya menyebabkan epidemiologi dapat dibagi dalam beberapa jenis yaitu:
        1. Epidemiologi Deskriptif
        2. Epidemiologi Analitik
        3. Epidemiologi Eksperimental. meliputi: Epidemiologi Klinis, epidemiologi Penyakit Menular, Epidemiologi Penyakit Tidak menular, Epidemiologi Lingkungan, Epidemiologi Kerja, Epidemiologi Pelayanan Kesehatan dan Epidemiologi Kebijakan Kesehata
               Bila dipandang berdasarkan unsur dan komponen pokok Epidemiologi maka terdapat 3 unsur yaitu manusia atau lebih dikenal dengan istilah orang (Man),  waktu (time) dan tempat (place).
        Berdasarkan unsur  pokok epidemiologi inilah segala sesuatu dikaitkan terhadap persoalan-persoalan yang ditemukan dalam upaya memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui kegiatan 5 tingkatan pencegahan penyakit