Tampilkan postingan dengan label Nurse Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nurse Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Juni 2015

Kisah Sukses Perawat Indonesia di Jepang

Kisah Sukses Perawat Indonesia di Jepang

Kisah sukses Ardy Afrianzah di negeri orang bukan hal umum.
Ia tiba di Jepang lima tahun lalu setelah lulus dari sekolah keperawatan di Indonesia. Di sela-sela pekerjaan penuh waktu, ia mengambil kursus bahasa Jepang. Seiring waktu bergulir, pemuda itu lulus dalam ujian kesejahteraan sosial nasional dengan soal yang ditulis dalam bahasa Jepang.
Kini, pekerja sosial berusia 26 tahun itu memiliki pendapatan sebanding dengan kolega asli Jepang di Panti Wreda Shinyokohama Parkside di Yokohama. Menurutnya, nominal yang diterima berkali lipat lebih besar dari yang bisa didapatkannya di Indonesia. Tahun ini, Ardy berencana memboyong istrinya ke negeri tersebut.
Konon, Jepang membutuhkan lebih banyak orang seperti Ardy, salah satu dari 17 warga Indonesia yang bekerja dengan 35 staf Jepang di Shinyokohama Parkside—lokasi yang menampung 100 orang lanjut usia. Saat ini, Jepang menawarkan program magang kepada para pekerja asing.
Jepang masih membutuhkan lebih dari 300.000 perawat bagi manula untuk 10 tahun mendatang. Jajak pendapat yang dilakukan secara nasional oleh Graduate School of Business, Nihon University, menyebutkan bahwa hanya sekitar 6% manajer panti wreda puas dengan kuantitas maupun kualitas para perawatnya.
“Jepang benar-benar membutuhkan para pekerja asing di sektor ini. Kami ingin menjadi pelopor dan melihat masalah yang muncul, jika memang ada,” ujar Yuko Makino, general manager Shinyokohama Parkside.
“Siswa dari Indonesia cenderung lebih perhatian pada orang tua ketimbang staf Jepang. Mereka tidak tergesa-gesa, hal yang penting dalam merawat manula,” ujarnya.
Masalahnya, mengundang lebih banyak pekerja asing seperti Ardy tidak murah atau mudah. Ardy serta para kolega asal tanah air di panti tersebut didatangkan melalui kesepakatan kerja sama ekonomi bilateral antara pemerintah Indonesia dan Jepang. Kesepakatan itu memungkinkan para sarjana jurusan kesehatan untuk mendapatkan pelatihan sebagai perawat manula. Jepang juga memiliki kesepakatan serupa dengan Filipina dan Vietnam.
Lewat program tersebut, Jepang dan negara-negara yang menjadi mitranya serta pemilik fasilitas panti membayar seluruh pengeluaran pekerja seperti tiket pesawat, pelatihan bahasa Jepang, serta persiapan ujian. Mereka yang ingin tetap berada di Jepang harus lulus ujian nasional dalam waktu empat tahun—tiga tahun di antaranya harus dihabiskan dengan menjalankan pelatihan. Jumlah pekerja yang lulus ujian cuma sepertiga lebih sedikit. Sekarang, hanya tersisa 203 perawat dari program tersebut yang bekerja di Jepang.
Nafila Diarana Fatonah, 24 tahun, adalah peserta pelatihan asal Indonesia di Shinyokohama Parkside. Menurutnya, butuh dedikasi besar untuk menyiapkan diri mengikuti ujian. “[Yang dipelajari] bukan bahasa Jepang biasa—kami harus belajar istilah-istilah, keterampilan, dan pengetahuan yang sangat spesifik,” ujarnya.
Pelatihan itu penting diikuti agar dapat menjadi perawat yang baik bagi para manula. “Pelatihan profesional dan keterampilan [sungguh] dibutuhkan. Orang yang kita rawat bukanlah ternak.”
Makino mengatakan teramat mahal untuk dapat mengembangkan program itu agar sanggup memenuhi permintaan tenaga perawat. Ia mengaku takkan mempekerjakan perawat asing yang  belum menjalani pelatihan yang diinginkan.

Sumber: The  Wall Street Journal

 

Kamis, 04 Juni 2015

Perawat Budiman

Perawat Baik Hati Donorkan Sel Telurnya Untuk 3 Pasangan Yang Belum Punya 

 

Anak Bagi setiap wanita, tentu ingin dirinya memiliki kandungan yang sehat serta subur agar bisa hamil serta melahirkan bayi dari kandungannya. Namun, keinginan ini mungkin hanya menjadi mimpi karena tidak semua wanita dan pasangannya memiliki anak.

Untuk membantu para pasangan yang tidak berkesempatan memiliki anak karena masalah kandungan sang istri, dilansir dari mirror.co.uk, seorang perawat baik hati Kelly Parsons telah menyumbangkan sel telurnya untuk para pasangan agar mereka bisa memiliki anak.

Saat ini, Kelly (35) yang berasal dari Morden, London,  telah membantu tiga pasangan untuk memiliki anak. Dari sel telur yang ia sumbangkan, Kelly memiliki dua anak kembar perempuan dan dua anak kembar laki-laki dari dua pasangan. Juga, ia memiliki satu anak laki-laki dari pasangan lain.

Sebelumnya Kelly sendiri telah memiliki dua orang putri bernama Charlotte (8) dan Emily (4). Istri dari Dean (41) ini mengaku bahwa dirinya hampir putus asa untuk memiliki buah hati karena pernah mengalami keguruan sebanyak 3 kali. Hingga pada tahun 2011, ia berhasil mengandung putri keduanya Emily.

Saat melahirkan Emily, ibu 35 tahun tersebut mengaku sangat bahagia. Dan untuk berbagi kebahagiaan tersebut, ia berjanji akan menyumbangkan sel telurnya kepada orang-orang yang membutuhkannya.
Tidak ingin orang lain merasa putus asa karena tidak bisa mengandung, Kelly memutuskan untuk mendonorkan sel telurnya kepada pasangan yang membutuhkan. Baginya, saat pertama kali sel telur diambil dari tubuhnya, ia merasa sangat lelah dan sakit, namun ia bahagia karena hal itu adalah perbuatan baik.

Kali ini, dari sel telur yang telah ia donorkan, kurang dari satu tahun 5, sel telur telah berhasil dibuahi dan menjadi bayi kembar perempuan, bayi kembar laki-laki dan satu bayi laki-laki. Karena hal ini, Kelly merasa sangat bahagia.

Kepada sang kedua buah hatinya, Kelly tidak lupa menyampaikan bahwa mereka memiliki saudara lain di luar sana. Ia juga berjanji, saat kedua putrinya sudah menginjak usia 18 tahun, mereka akan diperkenalkan dan dipertemukan dengan saudara-saudara mereka.

Bagi Kelly, ia merasa sangat senang saat dirinya bisa membantu orang lain memiliki anak. Ia juga sangat senang ketika ia bisa berbagai kepada orang lain serta membahagiakan orang lain. Ladies, sungguh mulai sekali hati Kelly ini ya. Atas kebaikannya, semoga kebahagiaan penuh selalu menyertai dirinya dan keluarganya. :)

Sumber: Vemale.com

Rabu, 20 Mei 2015

Koma 42 Tahun, Perawat yang Menjadi Korban Pemerkosaan Meninggal Dunia

Koma 42 Tahun, Perawat yang Menjadi Korban Pemerkosaan Meninggal Dunia

Karena suatu kecelakaan, trauma dan juga sakit berkepanjangan, tidak sedikit seseorang harus mengalami koma. Koma sendiri merupakan sebuah kondisi dimana hilang kesadaran yang sangat dalam. Menurut medis, pasien koma tak dapat dibangunkan, tak memberi respon normal terhadap sakit ataupun rangsangan cahaya dan tak memiliki siklus tidur ataupun bangun.

Dilansir dari laman dailymail.co.uk, seorang perawat bernama Aruna Shanbaug asal India yang telah terbaring koma selama 42 tahun akhirnya meninggal dunia pada Senin (18/05/2015).


Sebelum mengalami koma, Aruna sempat mengalami pelecehan seksual dan pemerkosaan brutal di Rumah Sakit King Edward Memorial, Mumbai, India pada tahun 1973 saat ia bekerja dan menjalankan prefesi perawatnya.

Peristiwa pemerkosaan brutal terjadi ketika ia masih berusia 24 tahun. Saat itu, ia sedang ganti pakaian. Namun, seorang pekerja rumah sakit lain bernama Sohanlal Bharta Walmiki mendatanginya dan melakukan kekerasan seksual padanya.

Perawat muda Aruna saat itu sempat melawan, tapi, Sohanlal menggunakan rantai anjing untuk mencekik korban hingga akhirnya ia memperkosa Aruna. Karena terlalu keras, cekikan yang dilakukan Sonalal rupanya telah memutus aliran darah ke otak hingga mengakibatkan wanita tersebut mengalami koma.


Sohanlal sendiri berhasil ditangkap dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Pria kejam tersebut sempat di tahan di penjara selama 7 tahun. Tapi sayang, atas apa yang ia lakukan, Aruna mengalami koma berkepanjangan.

Aruna mengalami koma hingga 42 tahun lamanya. Ia mampu bertahan hidup karena diberi makan melalui hidung. Wanita malang ini harus menghabiskan sisa hidupnya dengan dirawat di rumah sakit dalam kondisi lumpuh serta koma.

Hingga satu pekan terakhir sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia didiagnosa menderita pnemumonia. Pnemumonia sendiri adalah kondisi dimana terjadi inflamasi pada paru-paru atau radang paru-paru. Sejak menderita penyakit ini, kondisi Aruna semakin menurun hingga ia meninggal pada hari senin pukul 08.30.

Kasus ini sendiri telah menjadi dasar kampanye agar pemerintah India mengijinkan dan melegalkan eutanasia atau suntik mati pada pasien koma yang terlalu menderita dengan penyakit yang diidap. Ladies, semoga apa yang menimpa Aruna tak pernah menimpa kita ya. Semoga pula, Aruna bisa diterima di sisi Tuhan dan hidup lebih tenang di sisi Tuhan.

Semoga moga .... para perawat dapat lebih berhati... hati dalam menjalankan tugas dan profesinya, tapi jangan jadikan kisah ini sebagai hal yang mengendurkan semangat kerja tapi untuk  berhati-hati bahwa dimanapun kita dan pada siapapun hendaknya jaga keselamatan diri walau pun pada saat kita sedang dinas malam misalnya di rumah sakit..

semoga bermanfaat. Sumber: Vemale.com

 

Jumat, 24 Oktober 2014

Kisah Pasien Pikun Antarkan Perawat Masuk Islam

Kisah Pasien Pikun Antarkan Perawat Masuk Islam

Seorang perawat muda menemukan hidayah seusai merawat nenek muslimah Inggris penderita Alzheimer. Meski mengidap penyakit gangguan otak atau demensia (pikun menahun) wanita berusia 80 tahunan ini masih mengingat kewajiban salat lima waktu.
Ketaatan menjalankan ibadah salat dikala daya ingat sudah berkurang inilah yang menjadikan Cassie memutuskan menjadi muslimah.
"Setelah beberapa pekan dengan pasien saya, saya mulai terbiasa dengan pola hidupnya. Saya pikir awalnya dia meniru gerakan orang lain, namun saya melihatnya mengulangi gerakan itu pada waktu-waktu tertentu, pagi, siang, dan petang," ujar Cassie saat menceritakan pengalaman batinnya seperti dikutip laman Saudigazette, Selasa, 21 Oktober 2014.
Cassie menjelaskan, gerakan yang dilakukan pasiennya itu sepeti mengangkat kedua tangan, menunduk, dan menyentuhkan kepalanya di lantai.
Kala itu, Cassie sama sekali tak mengerti gerakan apa yang dilakukan pasiennya tersebut.
"Dia juga sering mengualangi kalimat-kalimat dalam bahasa lain. Saya tak tahu bahasa apa yang digunakan karena suaranya pelan," katanya.
Selain gerakan rutin tersebut, Cassie juga dilarang pasiennya untuk untuk memberi makan dengan menggunakan tangan kirin.
Penasaran dengan perilaku pasiennya tersebut, Cassie memutuskan untuk mencari tahu lewat online dan bertanya kepada orang-orang. Sampai akhirnya Cassie mengetahui jika gerakan yang dilakukan pasiennya itu adalah salat.
"Saya sangat terkejut. Bagaiman mungkin Seorang nenek - nenek yang telah kehilangan banyak memori tentang anaknya, pekerjaan, dan hampir tak bisa makan dan minum bisa ingat bahkan melakukan salat serta mengingat bacaan dalam bahasa lain," kisah Cassie.
Kekaguman ini menghantarkan Cassie untuk menggali lebih jauh keyakinan yang dianut pasiennya tersebut.
Cassie akhirnya mendapatkan link terjemahan Quran dan mencoba mendengarkannya.
"Ayat mengenai lebar membuat saya merinding dan saya mengulanginya terus-menerus setiap hari. Saya merekam Quran dalam iPhod dan memberikannya kepada pasien saya. Dia tersenyum dan menangis," kata Cassie yang mengetahui alasan tangisan itu setelah membaca terjemahannya.
Sejak kejadian itu, rasa penasaran Cassie terus digali dengan rajin mengunjungi Masjid dan belajar dari imam di tempat itu.
"Saya tak pernah memegang keyakinan apapun namun saya mempercayai adanya Tuhan. Saya hanya tak tahu cara menghormatinya," katanya.
Sampai suatu saat, Cassie akhirnya memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat Syahadat. "Orang yang pertama saya beri tahu tentang kemualafan ini adalah pasien saya itu, bukan saudara. Sebelum saya membuka mulut, dia menangis dan tersenyum pada saya," katanya.
Usai sepekan menjadi muallaf, Cassie harus menghadapi kabar duka. Pasien pengidap Alzheimer yang membuka pintu hidayah baginya dipanggil sang Pencipta.
"Dia seperti Ibu yang tak pernah saya miliki dan dia telah membuka pintu menuju Islam," isak Cassie.

Kisah ini mengisfirasi kita bahwa bila kita bekerja dengan ikhlas Allah akan membukakan pintu hidayah kekita, apalagi pekerjaan kita sebagai perawat yang selalu bergelut dengan hal-hal yang menunjukkan kekuasaan Allah yang mahha kuasa,....

Sumber: Dream. co.id

Jumat, 04 April 2014

Kisah Ratna, Perawat yang Memberdayakan Mantan Pasien Kusta di Jatim, Sukses Bina 41 Kelompok Penderita Kusta



Banyak mantan penderita kusta yang dikucilkan oleh masyarakat. Dianggap masih dapat menularkan penyakit, mantan penderita kusta pun kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain, bahkan hingga menyulitkan mereka untuk mendapat pekerjaan.

Itulah yang terjadi di kecamatan Grati, Pasuruan. Di sana, kusta merupakan salah satu penyakit yang cukup banyak penderitanya. Diketahui dari sebanyak 9 desa, sekitar 400 penduduknya terkena kusta.
Bagi Ratna Indah Kurniawati seorang perawat yang berusia 34 tahun, kehidupan para penderita kusta harus berlanjut sekali pun memiliki keterbatasan fisik. Perawat di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Kecamatan Grati, Pasuruan, Jawa Timur ini senantiasa terdorong membantu mengembalikan motivasi hidup penderita Kusta dengan memberikan peluang usaha seperti berternak jangkerik serta usaha menjahit dan menyulam.
Melihat para mantan penderita kusta yang hampir semuanya berasal dari keluarga yang tidak mampu. Dengan kondisi yang mereka miliki, dampak kesulitan mencari pekerjaan pun semakin menambah beban mereka.

"Karena penyakit yang pernah mereka miliki, mereka menjadi susah untuk bekerja. Hidup mereka harus bergantung dengan orang lain. Ditambah lagi penyakit kusta ini membuat penderitanya cacat tangan atau pun cacat kaki," tutur Ratna kepada Detik Health pada acara Bincang Inspiratif dalam rangka Kick Off SATU Indonesia Awards 2014 di fX lifestyle X'nter, Jl. Jend Sudirman, Jakarta Pusat, dan ditulis pada Kamis (6/3/2014).

Menurut Ratna, walaupun para mantan penderita kusta tersebut sudah selesai pengobatannya, tetapi masyarakat tetap menganggap mereka masih mengidap kusta sehingga masih dapat menularkan.

"Dari segi itulah saya merasa kasihan dengan mereka (penderita kusta) kalau terus dibiarkan seperti itu. Nah, akhirnya saya berniat untuk membentuk kelompok pemberdayaan ini," ungkap Ratna yang merupakan perawat di Puskemas Kecamatan Grati, Pasuruan.

Dalam prosesnya, Ratna rela mendatangi ke rumah-rumah warga yang pernah mengidap kusta dan mendata mereka satu per satu. Ratna mengaku tidak semua rumah yang ia datangi mau ikut bergabung dalam kelompok pemberdayaan ini. Dari sejumlah warga yang ia datangi, sebanyak 25 oranglah yang mau bergabung.

Adapun pemberdayaan yang Ratna lakukan pada mantan penderita kusta ini ialah dengan memberikan mereka sebuah usaha untuk membantu membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Usaha tersebut adalah ternak jangkrik.

Tidak berhenti sampai di usaha ternak jangkrik, usaha pun berkembang pada usaha menjahit dan menyulam, serta usaha ternak kambing. Ratna mengungkapkan, pencapaian ini berhasil karena Ratna juga menjalin kerjasama dengan Dinas Koperasi, Dinas Sosial, dan Pemerintah untuk ikut membantu.

"Sekarang mereka akhirnya sudah punya pekerjaan. Contohnya dari mereka yang ikut dalam kelompok menjahit, akhirnya mereka sudah mulai sering menerima orderan jahitan dari para tetangga," tutur Ratna.

Ratna berhasil membuat para mantan penderita kusta dapat lebih produktif dan tidak malu lagi akan penyakit yang pernah dideritanya. Karena kebaikan dan niat tulus dalam gerakan pemberdayaan inilah Ratna akhirnya mendapat apresiasi dari SATU Indonesia Awards pada tahun 2011.
Ratna selalu mendata ulang penderita kusta di wilayah kerjanya yang mencakup sembilan desa, sekaligus untuk mengetahui status terbaru penyakit mereka. Ratna juga menghimpun kelompok lain seperti penderita diabetes melitus.
Setelah menerima apresiasi SATU Indonesia Awards pada tahun 2011, dia melanjutkan kegiatan dengan penyuluhan ke berbagai kelompok tentang penyakit kusta dan membantu penemuan penderita baru. Ratna juga membentuk koperasi untuk para eks penderita kusta untuk memasarkan hasil aneka keterampilan mereka.
Saat menerima penghargaan pada 2011, Ratna baru membina 25 orang penderita kusta. Sekarang, binaannya sudah bertambah menjadi 41 kelompok yang berasal dari beberapa kabupaten di provinsi Jawa Timur. Setiap kelompoknya terdiri dari 15–20 orang.
Sosialisasi & Karya Untuk Hidup Lebih Baik
Kata-kata bijak yang menyebutkan “bantulah orang-orang di dekatmu yang sedang berkesusahan”, sepertinya diamalkan dengan sangat baik oleh perawat ini. Sejak tahun 2014, Ratna mulai memberdayakan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dengan
memberikan pelatihan menjahit dan membuat aksesori dari manik-manik yang hasilnya kemudian dijual di koperasi.

Senin, 18 November 2013

MENGAKOMODASI PERAN PERAWAT MUDA

 

Saya sangat tertarik ketika membaca tulisan Bp. Edy Wuryanto, SKep (Sekretaris PPNI Jateng) dalam kolom pinggir di Media Sehat edisi 20 lalu. Tulisan itu berjudul “Inspirasi Barack Obama”. Mungkin banyak perawat kita bertanya- tanya, apa hubungan Barack Obama dengan profesi perawat? Tentu saja secara profesi tidak ada hubungannya. Tetapi ada point yang dapat ditiru dari Mr. Obama, yaitu muda (untuk ukuran seorang presiden), energik, cerdas, berkarakter, dan tentu saja memiliki jiwa sebagai seorang pemimpin. Lalu pantaskah perawat memiliki mimpi tinggi untuk menjadi Obama- Obama baru di masa yang akan datang? Kalau dipandang dari keperawatan gaya lama, pasti pertanyaan itu akan dijawab “tidak pantas”. Alasannya klasik, ya tentu dengan memilki mimpi-mimpi dan pikiran-pikiran yang aneh-aneh, perawat akan dicap sebagai perawat yang “murtadz” dari profesinya. Lalu bagaimanakah dengan keperawatan gaya baru?
Ada hal menarik yang terjadi dalam perkembangan dunia keperawatan akhir- akhir ini. Hal ini dikarenakan telah banyak perubahan antara keperawatan tempo dulu dengan sekarang. Sekarang ini para pakar- pakar keperawatan mulai memandang dunia keperawatan dari berbagai sudut yang lebih luas. Masih dalam tulisannya, Bp Edy Wuryanto mengatakan, “Next, dunia keperawatan membutuhkan kader yang siap untuk menjadi pemimpin. Pemimpin bukan hanya dilingkup internal perawat, yang menjadikan kita seperti katak dalam tempurung. Tetapi juga pemimpin yang lebih luas. “ Lalu pertanyaannya, bagaimanakah cara mewujudkan harapan itu? Menurut saya, jawabannya adalah dengan menyiapkan generasi muda keperawatan sebagai agen pembawa kemajuan secara berkesinambungan, sehingga perjuangan keperawatan untuk meraih kemajuan tidak akan terputus ditengah jalan.
Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa peran pemuda sangat vital dalam pergerakan bangsa, seperti pada era kebangkitan nasional, sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, era ’66, era reformasi, dan seterusnya sampai detik ini. Pemuda selalu punya inisiatif dan ide2 segar untuk mendobrak kebuntuan dan mencetuskan perubahan. Bung Karno pernah berkata : “ Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan kuguncang seluruh dunia ”. Hal ini menunjukkan, betapa besarnya kekuatan pemuda jika disalurkan secara benar.
Peran pemuda keperawatan
Untuk mengakomodasi peran anak- anak muda keperawatan, dapat dimulai dari organisasi kampus. Jadi PPNI dapat menjadikan organisasi kampus keperawatan baik D3 maupun S1 sebagai mitra untuk berkembang. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya dengan mengadakan forum- forum diskusi dan memberikan ruang bagi mahasiswa- mahasiswa keperawatan untuk mengekspresikan pendapat-pendapat maupun pemikiran- pemikirannya. Selain itu juga dapat berkoordinasi dengan koordinator kemahasiswaan di masing-masing kampus agar memberikan advokasi kepada mahasiswa dalam meningkatkan fungsi organisasinya agar berperan lebih luas, dalam arti tidak hanya menyelenggarakan bentuk kegiatan dalam skup internal kampus saja, tetapi mampu menyentuh peran pengembangan profesi keperawatan, bidang kesehatan, maupun dalam lingkup yang lebih luas.
Dalam aksi simpatik perawat yang digelar pada 12 Mei 2008 lalu, terbukti bahwa mahasiswa keperawatan menyumbangkan massa yang cukup besar, baik di Jakarta maupun di berbagai daerah di tanah air. Namun tentu saja kita berharap tidak hanya jumlahnya saja yang besar, tetapi hendaknya memiliki semangat dan pemikiran-pemikiran besar. Jumlah institusi keperawatan sudah menjamur di mana- mana. Oleh karena itu sangat sayang apabila potensi- potensi mereka tidak dikembangkan.
Kemudian bagi para perawat muda yang telah bekerja di berbagai tempat layanan kesehatan, hendaknya sedini mungkin untuk ikut dilibatkan dalam memikirkan pengembangan profesi. Sehingga dari usia muda, mereka sudah ikut handarbeni terhadap organisasi profesi, so di masa depan akan mempunyai ikatan dan motivasi yang kuat untuk mengembangkan profesi dalam peran yang lebih besar. Tidak dapat dipungkiri, bahwa organisasi perawat saat ini belum banyak mempengaruhi kebijakan Pemerintah secara politis (Media sehat edisi 17). Dalam lingkup kesehatan saja, masih belum terlihat “taringnya”, padahal perawat merupakan jumlah terbesar dari seluruh jumlah tenaga kesehatan di Indonesia (mencapai lebih dari 60%). Tetapi dalam hal kekuatan dan pengaruh, jelas-jelas kita masih dibawah Kedokteran, kebidanan, dan Farmasi. Oleh karena itu sangat penting untuk merapatkan barisan, menumbuhkan kepedulian, dan berlatih mengasah pikiran bagi kemajuan profesi mulai sejak dini.
Saat ini para perawat muda benar- benar berada di wilayah Grass root, mereka dapat merasakan sendiri kondisi riil di lapangan saat ini dan pastilah menumbuhkan berbagai pertanyaan serta rasa ingin tahu yang tinggi tentang berbagai persoalan. Sehingga sangat penting untuk mengakomodir gejolak serta potensi para pemuda ini dalam forum yang positif. Tentunya kita harus menyadari bahwa peningkatan dan kemajuan profesi keperawatan harus dipandang dalam integral yang kompleks, baik tentang peningkatan profesionalisme, penguatan organisasi profesi, perlindungan hak- hak perawat, advokasi lintas program dan lintas sektoral, maupun keterkaitan yang kuat terhadap kebijakan para decision maker. Keterbukaan adalah kata kunci untuk terus tumbuh dan berkembang. Sikap yang terlalu eksklusif, introvert, dan konservatif justru akan “memenjarakan” keperawatan di rumah sendiri.
Ke depan, kita berharap bahwa para perawat muda tidak hanya sebagai obyek kemajuan tetapi mampu sebagai subyek/ pelaku untuk menggapai kemajuan. Jadi bukanlah hal yang muluk- muluk apabila pada suatu hari nanti, teman- teman yang ber- background keperawatan dapat menggapai mimpi setinggi- tingginya, karna bukan hanya laskar pelangi saja yang berhak bermimpi, namun laskar Florence nightingale pun juga layak bermimpi, punya arti, dan mengembangkan diri.
Majulah terus Perawat Indonesia…!!!

Kamis, 13 Juni 2013

Kisah Suharwoko dari Kuwait Kangen Pulang, Inginnya Jadi Pengusaha Saja

 

Nama saya Suharwoko, 35 tahun. Lulusan Akademi Perawat Jogja  Tahun 1996. Saya mulai bekerja di Kuwait sejak Tahun 2000 di sebuah Rumah Sakit Bedah Jantung sebagai Perawat. Sebelumnya saya bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Indonesia.  Awalnya saya hanya berencana  bekerja 4 atau 5 tahun saja di Kuwait. Setelah terkumpul modal rencananya saya pulang ke Indonesia, terus membuka usaha,  tetapi ternyata nasib menentukan lain. Sampai sekarang saya masih di Kuwait… cukup lama juga ya? 
Ya.. menjadi Perawat memang  bukan cita cita saya. Entah kenapa saya bisa terjun ke profesi yang sama sekali tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tetapi semua tentu ada hikmahnya, kalau bukan sebagai Perawat mungkin malah saya nggak pernah menginjak Tanah Arab.
Alhamdulillah di sini saya mendapat banyak kemudahan sehingga bisa umrah dan haji dari Kuwait karena jaraknya tidak terlalu jauh dari Arab Saudi. Selain itu Karena Kuwait hanya sebuah  negara kecil, sehingga saya sering bertemu dengan orang orang penting yang mengadakan kunjungan ke Kuwait. Sebut saja mantan Ketua MPR  Dr Hidayat Nurwahid, Ketua PPNI Prof Achir Yani , Ketua IKADI Dr  Satori dll.
Kuwait merupakan negara kecil di Kawasan Teluk yang luasnya mungkin lebih kecil dari  Provinsi Jakarta, dengan jumlah penduduk asli yang hanya sekitar 1,2 juta orang namun karena sumber minyak yang melimpah, jadilah Kuwait  negara petro dollar yang makmur dan kaya raya. Bayangkan saja selain semua fasilitas pendidikan dan kesehatan gratis, masing masing penduduk mendapat jatah bulanan dan khusus untuk merayakan ulangtahun kemerdekaan yang ke 50 bulan  Pebruari kemarin masing-masing penduduk mendapat jatah 1000KD per kepala atau setara dengan Rp32 juta ditambah lagi dengan  jatah bahan makanan untuk setahun gratis. Kapan ya negeri kita bisa begini????.
Selebihnya sekitar 2/3 penduduk atau sekitar 2.3 juta orang di Kuwait adalah para pendatang atau pekerja  yang mengais rejeki di negeri kaya minyak ini. Pada dasarnya pekerja di Kuwait bisa dibagi dua skill/professional worker dan unskill worker. Sebagai  perawat yang termasuk skill worker , saya lebih beruntung dibanding mereka yang bekerja di rumah sebagai pembantu rumah tangga atau driver. Selain gaji yang lumayan, kontrak kerja tenaga kerja yang professional juga jelas. Banyak kejadian tenaga kerja kita yang bekerja di rumah mendapat perlakuan semena mena, tidak dibayar, disiksa bahkan sampai mendapatkan pelecehan seksual, meskipun banyak juga yang beruntung mendapatkan majikan yang baik.
Saat pertama kali mendapat kabar lolos interview ke Kuwait, perasaan saya dan keluarga sangat gembira sekali , waktu itu saya langsung memutuskan untuk keluar dari tempat kerja saya tetapi ternyata proses pemberangkatan  tidak  secepat yang dikira, birokrasi kita terlalu berbelit belit, sehingga kalau negara lain seperti Filipina dan India bisa dalam hitungan bulan sudah selesai administrasi dan proses pemberangkatannya, tetapi di negara kita bisa sampai tahunan, bahkan recruitment yang terakhir sampai hampir 2 tahun belum berangkat juga.
Waktu itu saya menunggu sampai satu tahun baru berangkat, katanya nunggu visanya yang lama.  Sebenarnya peluang tenaga kerja perawat tidak hanya di kuwait tetapi negara-negara Teluk lainya masih terbuka luas, apalagi sebagai  sesama negara muslim tentu mereka lebih memilih kita yang sama sama muslim, hanya saja mampukah kita memanfaatkan kesempatan dan bersaing dengan negara lain.

Kita Bukan Bangsa Bodoh
Dari segi kemampuan ilmu perawat kita tidaklah kalah dengan perawat dari negara lain, hanya saja masalah bahasa sangat sangat  menjadi kendala bagi perawat kita, padahal bahasa adalah senjata utama untuk bisa go internasional.
Sebagai seorang perawat,  imbalan gaji di Kuwait  sebenarnya cukup  menggiurkan dibanding  bekerja di Indonesia,  bahkan untuk anak yang baru datang (pekerja baru) bisa mendapatkan gaji Rp20 juta lebih per bulan.  Bayangkan gaji segitu mungkin setara dengan  gaji  seorang manajer senior di Indonesia. Hanya saja jika membawa keluarga maka akomodasi tidak ditanggung pemerintah padahal biaya sewa apartemen di Kuwait termasuk mahal bisa mencapai Rp6- 8 juta sebulan, itu belum termasuk untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak yang cukup mahal.Anehnya di Kuwait, perawat yang baru datang dengan kontrak baru dan lebih besar dari perawat yang lama, dan tidak ada kenaikan secara berkala, kalaupun ada kenaikan secara bersama yang memakanan waktu sampai lama sekali.
Kalau dibilang sukses ya relatif… untuk ukuran perawat di Indonesia yang hanya mengandalkan gaji, mana ada yang bisa membeli mobil Landcruiser Prado atau Pajero seperti di Kuwait? Tetapi bukanlah kita tidak selamanya tinggal di Kuwait? Buat apa gaji besar tetapi harus meninggalkan keluarga dalam waktu yang lama? Kalaupun membawa keluarga tetapi pengeluaran besar juga jadi uangnya hanya dihabiskan di Kuwait saja.
Kembali ke planning awal untuk secepatnya kembali ke Indonesia. Ternyata memutuskan untuk resign dari Kuwait tidaklah mudah. Selain melihat teman teman yang sudah resign duluan, ternyata banyak yang  gagal dan akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke Kuwait, selain itu proses untuk ke Kuwait tidaklah mudah dan belum tentu setiap tahun ada recruitment.
Kenapa rata rata teman-teman Perawat enggan untuk bekerja sebagai Perawat lagi di Indonesia, ya mungkin karena dari segi gaji di Indonesia yang jauh dari cukup, sementara sudah terbiasa mendapat gaji yang lumayan besar. Juga masalah umur. Bagi yang masih muda  masih ada pilihan untuk ikut test pegawai negeri, selebihnya lebih banyak yang mencoba berwirausaha ada yang  yang sukses,  meski banyak juga yang gagal.
Ya.. ternyata permasalahanya tidaklah mudah untuk merubah mindset dari karyawan menjadi pengusaha. Selain dari segi pengalaman kompetisi dan kurangnya jaringan juga kebanyakan kita  dengan modal yang  ada pengen usaha langsung besar tanpa harus susah payah merintis dari bawah.
Beruntung sekali pada bulan Desember tahun lalu, atas prakarsa Entrepeneur University (EU)  Cirebon (ada alumnus EU Cirebon  yang dulu bekerja sebagai perawat di Kuwait) terbentuklah Entrepneneur University Cabang Kuwait yang mendatangkan mentor-mentor EU dari Indonesia seperti  Purdie E Candra, Budi Utoyo, Among Ebo, Joe Hartanto,Kuat Subarhja, Mas Mono, dan masih banyak lagi yang lain, yang  mengisi mentoring EU Kuwait.
Sedikit banyak mindset kita telah berubah dah kita bisa belajar banyak mengenai trik trik bisnis dan mempunyai jaringan yang luas serta mendapat bimbingan seumur hidup sebagai bekal membuka usaha di Indonesia nanti. Meskipun  dalam hal ini bukan berarti kita harus meninggalkan profesi/dunia  kita sebagai perawat.Mudah mudahan setelah mentoring EU nanti kita bisa segera action dan menjadi pengusaha pengusaha sukses di Indonesia.Impian saya menjadi Nurse Entrepreneur yang sukses.. Bismillah BISA…! N Suharwoko Suhadi, dari Kuwait.

sumber: entreprenerurship.wirausahanews.com

Rabu, 14 November 2012

Perawat Indonesia Lulus 2 Orang Ujian Sertifikasi di Jepang

PERAWAT INDONESIA YANG LULUS CUMA 2 ORANG 

           Pada tanggal 26 Maret, Kementrian Tenaga Kerja Jepang mengumumkan bahwa 3 orang perawat asing, 2 dari Indonesia dan 1 dari Filipina, berhasil lulus dalam ujian serifikasi perawat yang diadakan pemerintah Jepang. Tiga perawat asing tersebut merupakan peserta ujian Jepang yang jumlah totalnya mencapai 47.340 orang. Pada ujian tahun 2008, tidak ada satu pun perawat asing yang lulus. Ujian negeri untuk memperoleh sertifikat perawat ini, sebenarnya diadakan untuk orang Jepang. Perawat asing yang notabene didatangkan atas perjanjian Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) juga diwajibkan untuk mengikuti ujian ini bersama dengan calon perawat Jepang.

      Konon, proyek mendatangkan tenaga perawat dan care worker dari Asia Tenggara ini bukan karena Jepang kekurangan tenaga kerja yang mau bekerja di sektor ini. Hal ini bisa dilihat dari jumlah peserta orang Jepang yang lulus. Masyarakat Jepang sendiri tidak semuanya setuju. Kementerian Luar Negeri Jepanglah yang mengeluarkan isyarat akan di mulainya proyek ini dalam kerangka IJEPA tadi, yang kemudian dengan terpaksa diikuti oleh Kementrian Tenaga Kerja yang tergopoh-gopoh membuat regulasi. Jadi, di sinilah letak kunci permasalahannya, kurang koordinasi.

         Kedua perawat Indonesia ini, berhasil melewati ujian berkat dukungan penuh dari pihak rumah sakit tempat mereka bekerja. Pihak rumah sakit tidak hanya menyediakan ruang khusus untuk belajar dan laptop, namun juga sampai ke hal-hal seperti para perawatnya secara bergantian bertindak selaku pembimbing. Bagi orang Jepang sendiri, ujian sertifikasi perawat ini sangat susah, seperti istilah-istilah yang tertulis dalam kanji, yang orang Jepang sendiri banyak yang tidak bisa membacanya. Ada rumah sakit yang memberikan hari tertentu dalam seminggu khusus untuk belajar, ada pula yang memberikan jam pelajaran setelah jam kerja. Konon, waktu ujian tahun lalu, kedua perawat yang lulus ujian tersebut, jangankan mau mengisi, membaca soalnya saja tidak bisa. Jadi, tanpa bantuan native speaker dan dukungan penuh tempat mereka bekerja, rasanya mustahil untuk lulus.

            Pemerintah Jepang memberikan waktu 3 tahun bagi perawat asing untuk mengikuti ujian ini,  jika dalam waktu tersebut tidak lulus, maka perawat tersebut harus pulang ke negaranya. Selama mereka belum berhasil mengantongi sertifikat perawat, maka statusnya adalah, “pembantu” perawat, yang konsekuensinya mereka tidak mendapat gaji penuh sebagai perawat. Dalam melakukan tugasnya pun para pembantu perawat tersebut hanya diperbolehkan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan siapa saja, seperti mengganti seprei dan mengurus pasien. Keadaan ini cukup menjatuhkan harga diri para perawat karena mereka memang memiliki pengalaman kerja di rumah sakit minimal 2 tahun. Bagi yang tidak tahan diperlakukan seperti perawat pemula, akan mengalami stres yang berujung pada hilangnya semangat kerja. Sebenarnya, dalam orientasi di Indonesia sudah dijelaskan kalau mereka akan diminta untuk mulai bekerja dari level bawah dan diminta untuk melupakan posisi waktu mereka di Indonesia.

          Ujian super sulit yang harus mereka hadapi bersama dengan orang Jepang ini tidak dijelaskan saat orientasi di Indonesia. Pihak penyelenggara orientasi juga tidak menjelaskan berapa besar gaji yang akan dipotong selain dari biaya akomodasi. Para perawat yang orang asing itu bahkan harus membayar iuran pensiun. Selain dari sulitnya ujian yang harus mereka hadapi, secara umum, rumah sakit atau panti jompo tempat mereka bekerja, memperlakukan mereka dengan baik. Bagi rumah sakit yang memiliki asrama, para perawat asing tersebut diberikan kamar asrama. Kalau tidak memiliki fasilitas asrama, rumah sakit mencarikan apartemen yang dekat dari rumah sakit dengan uang kontrak kamar dibayar patungan. Bahkan bagi mereka yang berprestasi, ada juga rumah sakit yang memberikan tiket gratis bagi perawat asing yang telah bekerja lebih dari 6 bulan. (M.Surya,dari berbagai sumber)

 Sumber: Komunitas Alumni Jepang di Indonesa