Tampilkan postingan dengan label Kesehatan populer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan populer. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 April 2014

Bayi kuning, adakalanya alamiah, adakalanya karena penyakit

Kode ICD.10 (Interntional Classification of Diseases) : P58-59: Neonatal jaundice

Ikterus: (jaundice) adalah warna kekuningan pada kulit dan selaput mata.
Neonatorum: adalah bayi baru lahir.

Kata kunci: ikterus, icterus, kulit kuning, neonatus, neonatal jaundice, bilirubin, hiperbilirubinemia, jaundice.

Istilah bayi kuning mungkin sudahada dalam pemikiran saudara. Pembaca mungkin pernah mendengar atau bahkan melihat sendiri seorang bayi baru lahir berwarna kuning di sekujur kulit dan selaput matanya. Warna kuning dapat terlihat beberapa jam hingga beberapa hari setelah lahir. Kemunculannya tak jarang mengundang tanya, mengapa kulit si bayi berwarna kekuningan sementara bayi yang lain tidak? Apa penyebabnya ? Adakah yang salah ? Dan mungkin berbagai pertanyaan mengiringi kemunculan warna kuning pada kulit bayi baru lahir.

:: :: :: PENGERTIAN :: :: ::
Ikterus neonatorum (bayi baru lahir berwarna kuning) adalah kondisi munculnya warna kuning di kulit dan selaput mata pada bayi baru lahir karena adanya bilirubin (pigmen empedu) pada kulit dan selaput mata sebagai akibat peningkatan kadar bilirubin dalam darah (hiperbilirubinemia).

:: :: :: ANGKA KEJADIAN :: :: ::
Warna kekuningan pada bayi baru lahir adakalanya merupakan kejadian alamiah (fisologis), adakalanya menggambarkan suatu penyakit (patologis).
Bayi berwarna kekuningan yang alamiah (fisiologis) atau bukan karena penyakit tertentu dapat terjadi pada 25% hingga 50% bayi baru lahir cukup bulan (masa kehamilan yang cukup), dan persentasenya lebih tinggi pada bayi prematur.

Disebut alamiah (fisiologis) jika warna kekuningan muncul pada hari kedua atau keempat setelah kelahiran, dan berangsur menghilang (paling lama) setelah 10 hingga 14 hari.Ini terjadi karena fungsi hati belum sempurna (matang) dalam memproses sel darah merah.
Selain itu, pada pemeriksaan laboratorium kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah tidak melebihi batas yang membahayakan (ditetapkan).

:: :: :: PARAMATER :: :: ::
Ada beberapa batasan warna kekuningan pada bayi baru lahir untuk menilai proses alamiah (fisiologis), maupun warna kekuningan yang berhubungan dengan penyakit (patologis), agar kita lebih mudah mengenalinya.

Secara garis besar, batasan kekuningan bayi baru kahir karena proses alamiah (fisiologis) adalah sebagai berikut:
  • Warna kekuningan nampak pada hari kedua sampai hari keempat.
  • Secara kasat mata, bayi nampak sehat
  • Warna kuning berangsur hilang setelah 10-14 hari.
  • Kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah kurang dari 12 mg%.

Adapun warna kekuningan pada bayi baru lahir yang menggambarkan suatu penyakit (patologis), antara lain:
  • Warna kekuningan nampak pada bayi sebelum umur 36 jam.
  • Warna kekuningan cepat menyebar kesekujur tubuh bayi.
  • Warna kekuningan lebih lama menghilang, biasanya lebih dari 2 minggu.
  • Adakalanya disertai dengan kulit memucat (anemia).
  • Kadar bilirubin (pigmen empedu) dalam darah lebih dari 12 mg% pada bayi cukup bulan dan lebih dari 10 mg% pada bayi prematur.

Jika ada tanda-tanda seperti di atas (patologis), bayi kurang aktif, misalnya kurang menyusu, maka sebaiknya segera periksa ke dokter terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan.

Disamping itu, beberapa kondisi yang dapat beresiko terhadap bayi, antara lain:
  • Infeksi yang berat.
  • Kekurangan enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase(G 6 PD).
  • Ketidaksesuaian golongan darah antara ibu dan janin
  • Beberapa penyakit karena genetik (penyakit bawaan atau keturunan).

:: :: :: BAGAIMANA TERJADINYA ? :: :: ::
Tentu kita bertanya-tanya, bagaimana warna kekuningan dapat terjadi, baik pada proses alamiah (fisiologis) maupun warna kekuningan yang berhubungan dengan penyakit?
Pada dasarnya warna kekuningan pada bayi baru lahir dapat terjadi karena beberapa hal, antara lain:
  • Proses pemecahan sel darah merah (eritrosit) yang berlebihan.
  • Gangguan proses transportasi pigmen empedu (bilirubin).
  • Gangguan proses penggabungan (konjugasi) pigmen empedu (bilirubin) dengan protein.
  • Gangguan proses pengeluaran pigmen empedu (bilirubin) bersama air.

Gangguan pada proses di atas (dan proses lain yang lebih rumit) menyebabkan kadar pigmen empedu (bilirubin) dalam darah meningkat, akibatnya kulit bayi nampak kekuningan.

:: :: :: PENGOBATAN :: :: ::
Pada bayi baru lahir dengan warna kekuningan karena proses alami (fisiologis), tidak berbahaya dan tidak diperlukan pengobatan khusus, kondisi tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Prinsip pengobatan warna kekuningan pada bayi baru lahir adalah menghilangkan penyebabnya.
Cara lain adalah upaya mencegah peningkatan kadar pigmen empedu (bilirubin) dalam darah. Hal ini dapat dilakukan dengan:
  • Meningkatkan kemampuan kinerja enzim yang terlibat dalam pengolahan pigmen empedu (bilirubin).
  • Mengupayakan perubahan pigmen empedu (bilirubin) tidak larut dalam air menjadi larut dalam air, agar memudahkan proses pengeluaran (ekskresi), dengan cara pengobatan sinar (foto terapi).
  • Membuang pigmen empedu (bilirubin) dengan cara transfusi tukar.

:: :: :: ANJURAN :: :: ::
Apapun jenisya, jika pembaca mendapati bayi kuning, sebaiknya konsultasi kepada dokter atau dokter spesialis anak.
Meski disebutkan bahwa bayi kuning sebagian besar diantaranya karena proses alami (fisiologis) dan tidak perlu pengobatan, seyogyanya para orang tua tetap waspada, mengingat bayi masih dalam proses tumbuh kembang. Karenanya, konsultasi kepada dokter atau dokter spesialis anak adalah langkah bijaksana.

Semoga bermanfaat, dan mudah-mudahan buah hati kita senantiasanya diberikan kesehatan.

Topik Terkait:

Kamis, 16 Mei 2013

Sistem Pertolongan Gawat Darurat Yang Terintegrasi

   Sistem Pertolongan Gawat Darurat Yang Terintegrasi 

Oleh : Elvi Zuliani, SKM


Fenomena yang terbentang dewasa ini  sungguh merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk dihindari. Siapa saja, kapan saja dapat mengalami fenomena dimana kita dihadapkan pada sebuah dilema Keadaan Gawat Darurat akibat kecelakaan, baik di tempat kerja di jalan raya atau bahkan di rumah dan tempat rekreasi.
     Sebagai profesional atau manusia kita tidak boleh pasrah dan menunggu ajal menjemput bila hal itu menimpa kita, keluarga kita atau orang - orang disekitar kita. Selayaknya manusia harus berusaha sebaik-baiknya dengan tindakan yang terencana dengan baik melalui Sistem Yang TerIntegrasi dengan tepat di lapisan masyarakat yang dalam pelayanan kesehatan kita kenal dengan IERS (Integrated Emergency Response System) atau SPGDT (Sistem Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Secara Terpadu). SPGDT adalah suatu sistem penanggulangan pasien gawat darurat yang terdiri dari unsur, pelayanan pra rumah sakit, pelayanan di rumah sakit dan pelayanan antar rumah sakit. SPGDT harus berjalan terpadu, baik pra, intra, dan inter rumah sakit. Hal ini demi mewujudkan tujuan yang lebih tinggi yaitu Safe Community, yaitu keadaan sehat dan aman yang tercipta dari, oleh dan untuk masyarakat. Pelayanan berpedoman pada respon cepat yang menekankan time saving is life and limb saving, yang melibatkan pelayanan oleh masyarakat awam umum dan khusus, petugas medis, pelayanan ambulans gawat darurat dan sistem komunikasi.
Misalnya : apa yang terjadi pada Alm Ustaz Jefri beberapa waktu lampau. Walau secara Kodrati ini memang adalah taqdir Allah SWT tetapi bila kita analisa dalam kajian pelayanan yang prima ini merupakan sebuah iktibar maka pada saat kecelakaan tunggal terjadi, orang pertama (first responder) yang mengetahui kejadian tersebut atau yang menemukan keadaan kecelakaan tersebut harusnya tanggap dalam menjalankan sistem yang terintegrasi tadi, dengan tindakan tanggap orang tersebut dalam menciptakan alur terpadu yaitu meminta pertolongan ke pusat komunikasi gawat darurat ( jangan coba-coba melakukan tindakan pertolongan bila tidak yakin aman untuk diri sendiri, apalagi pada orang yang mengalami kecelakaan), membebaskan jalan nafas secara manual ( menjadi tanggung jawab pemerintah untuk memberikan pendidikan dasar kepada masyarakat) tentang membebaskan jalan nafas dan pemberian napas buatan ,menghentikan perdarahan  dengan melakukan tindakan menutup/menyumbat, menekan dan meninggikan bagian yang mengalami perdarahan), mengatasi syok secara manual dan mengangkat dan memindahkan penderita dengan benar.
            Bila Masyarakat kita sudah cukup dibekali dengan ilmu yang cukup dalam melakukan sistem tersebut dimana ia harus tau kemana mencari pertolongan, apa yang harus dilakukan sembari menunggu pertolongan gawat darurat datang, maka kemungkinan terburuk pada korban gawat darurat bisa diminimalis bahkan kemungkinan untuk selamat adalah hal yang dapat dicapai.
Sejak tahun 2000 Kementerian Kesehatan RI telah mengembangkan konsep Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) memadukan penanganan gawat darurat mulai dari tingkat pra rumah sakit sampai tingkat rumah sakit dan rujukan antara rumah sakit dengan pendekatan lintas program dan multisektoral. Penanggulangan gawat darurat menekankan respon cepat dan tepat dengan prinsip Time Saving is Life and Limb Saving.
Berikut ini gambaran pelaksanaan Sistem Penanggulangan Penderita Gawat Darurat Terpadu sesuai dengan Modul BTLS  pro Emergency yaitu:
  1. Ketika terjadi kecelakaan atau kegawatdaruratan medis maka penderita akan terlebih dahulu ditemukan oleh orang awam yang ada disekitarnya.
  2. Orang awab bertugas untuk mengamankan terlebih dahulu diri sendiri, lingkungan dan penderita
  3. Setelah mengamankan lingkungan dan korban, orang yang pertama kali menemukan penderita harus mengaktifkan SPGDT dengan cara meminta bantuan kepada pusat komunikasi gawat darurat (Dispatheraa).
  4. Dispatcher yang menerima panggilan harus melakukan bimbingan pertolongan awal kepada penolong pertama. Setelah itu dispather mendistribusikan informasi kepada polisi, pemadam kebakaran, rescue dan ambulans gawat darurat yang terdekat dengan lokasi kejadian.
  5. Petugas yang datang kelokasi bertugas untuk melanjutkan pertolongan sebelumnya. Selain itu polisi bertugas mengamankan lingkungan, pemadam bertugas memadamkan api dan memeriksa potensi kebakaran, rescue bertugas untuk mengeluarkan korban yang terjepit atau terperangkap
  6. Petugas ambulans gawat darurat bertugas untuk stabilitas penderita ke rumah sakit rujukan yang sudah dihubungi dan ditunjuk oleh dispatcher.
  7. Sesampainya di rumah sakit rujukan petugas ambulans dan petugas UGD melakukan serah terima penderita.
  8. Petugas UGD melanjutkan tindakan sebelumnya, melakukan tindakan invasif dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan. Petugas UGD juga menentukan rujukan selanjutnya ke kamar operasi, ICU,ruang perawatan atau rumah sakit lain yang lebih mampu.
  9. Apabila akan melakukan rujukan ke rumah sakit lain maka petugas UGD harus menghubungi dispatcher lagi untuk mencari rumah sakit rujukan yang tepat.
  10. Penderita yang telah selesai mendapatkan perawatan di rumah sakit pulang ke rumahnya dengan sehat atau memerlukan perawatan jalan/kontrol.

Dengan pelaksanaan SPGDT yang terintegrasi diharapkan tidak ada pasien pulang dalam keadaan gagal mendapat pelayanan atau meninggal dunia, ini sebagai upaya pelayanan prima yang dapat ditawarkan dalam menangani keadaan Gawat Darurat. Tercapainya kualitas hidup penderita pada akhir bantuan harus tetap menjadi tujuan dari seluruh rangkai pertolongan yang diberikan. Tujuan dari Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat ( P P G D )  adalah :

1. Mencegah bahaya kematian atau mempertahankan hidup
2. Mencegah cacat
3. Mencegah penurunan kondisi fisik
4. Mencegah infeksi
5. Mengurangi rasa sakit.

   Sistem penanggulangan gawat darurat yang terintegrasi ini merupakan tanggungjawab kita semua, dan dalam pelaksanaannya kita harus antusias untuk mengawasi pelaksanaannya demi terjamin sistem yang dapat memberi keselamatan buat kita bersama  sebab SPGDT merupakan suatu sistem dimana koordinasi merupakan unsur utama yang bersifat multi sektor dan harus ada dukungan dari berbagai profesi bersifat multi disiplin dan multi profesi untuk melaksanakan dan penyelenggaraan suatu bentuk layanan terpadu bagi penderita gawat darurat baik dalam keadaan sehari-hari maupun dalam keadaan bencana dan kejadian luar biasa.
Berkaitan dengan hal keselamatan, sudah saatnya ada edukasi dan pelatihan Basic Life Support tentang keselamatan, P3K, hingga kemampuan dasar yang benar saat menyelamatkan orang pada peristiwa kecelakaan. Tindakan penyelamatan itu tak bisa dilakukan dengan cara sembarang. Jadi tidak bisa langsung menolong begitu saja tanpa memperhatikan cara yang benar agar tidak menambah penderitaan korban kecelakaan, bahkan bisa mempercepat kematiannya. Dengan pelatihan tersebut, diharapkan setiap biker atau masyarakat bisa memahami dan mampu memberikan pertolongan tanpa menimbulkan trauma lain atau kematian (do no harm). Setidaknya biker atau pengguna jalan lainnya mampu memahami bagaimana memberikan pertolongan pertama pada seseorang yang mengalami cedera atau kecelakaan di jalan raya atau di lokasi lainnya.
Namun demikian, pemahaman dan praktik Basic Life Support ternyata tidak mudah, terutama ketika kita diharapkan bisa memberi pertolongan pada seseorang yang sedang mengalami cedera atau kecelakaan di tempat umum. Kemungkinan terburuknya, kondisi korban akan bertambah parah atau malah meninggal dunia. Dalam prinsip-prinsip dasar Basic Life Support, kita akan mengetahui cara memberikan pertolongan pertama seperti:
1.      Jika melihat korban terjadi pendarahan, segera hentikan pendarahan dengan cara diperban atau dibalut agar aliran darah terhenti.
2.      Bagaimana mengangkat korban yang benar jika korban mengalami patah tulang.
3.      Bagaimana cara memberi nafas buatan jika korban pingsan sebelum pertolongan medis datang.
4.      Bagaimana cara membalut luka korban dengan benar supaya tidak terjadi pendarahan yang lebih parah.
5.      Apabila melihat ada korban yang mengalami cidera, sebaiknya mencari bantuan orang lain atau panggil paramedis dan jangan melakukan pertolongan sendiri.
6.      Membawa korban dengan menggunakan kendaraan yang nyaman agar luka korban tidak semakin parah.
Keberhasilan Penanggulangan Pasien Gawat Darurat Tergantung 4 Kecepatan :
  1. Kecepatan ditemukan adanya penderita GD
  2. kecepatan Dan Respon Petugas
  3. Kemampuan dan Kualitas
  4. Kecepatan Minta Tolong
Kemungkinan yang terjadi jika terlambat melakukan resusitasi
Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Koordinasi Lintas Unit
0- 4 Menit
Mati Klinis
Kerusakan Sel-sel otak tidak diharapkan
4-8 menit
Mungkin sudah terjadi Kerusakan Sel-Sel Otak
8-10 menit
Mati Biologis
Sudah Mulai  terjadi Kerusakan Otak
>10 menit
Hampir Dipastikan terjadi Kerusakan sel-sel Otak

Dalam upaya mewujudkan SPGDT, rumah sakit perlu membentuk jejaring atau sistem yang terintegrasi yang dimulai dari pra rumah sakit, inter rumah sakit dan intra rumah sakit, salah satunya melalui call center begitu menurut Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Akmal Taher, SpU (K),
SPGDT Call Center merupakan salah satu unsur pelayanan bertujuan mempermudah akses pelayanan penderita gawat darurat. Dengan adanya SPGDT Call Center119, maka diharapkan akan memberikan kemudahan kepada masyarakat mendapat pertolongan pada saat terjadi kasus kegawatdaruratan serta untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kegawatdaruratan yang berkualitas, lanjut Prof. Akmal.
Dirjen BUK menambahkan, pemerintah dan segenap masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan kesehatan kegawatdaruratan.
Direktur Bina Upaya Kesehatan Rujukan Kemenkes RI Dr. Chairul Radjab Nasution,SpPD,KGEH,FINASIM,M.Kes, menambahkan, kode akses Panggilan Darurat 119 adalah milik Kementerian Kesehatan, yang dapat diakses oleh pengguna (masyarakat) setelah jalurnya dibuka oleh para penyelenggara telekomunikasi. Untuk seluruh lapisan masyarakat dihimbau bila mengalami keadaan gawat darurat dan Anda menemukan korban bisa mulai melakukan kegiatan dalam menciptakan SPGDT ini dengan memulai menghubungi akses 119.
Basic Life Support sendiri kini semakin banyak digunakan di sejumlah negara dan telah memberikan banyak manfaat. Masyarakat dan juga pengguna jalan menganggap bahwa prinsip-prinsip Basic Life Support ini sangatlah penting, karena dalam keseharian sering terjadi kecelakaan atau musibah di jalan raya. Bisa dibayangkan jika ada salah satu anggota keluarga kita mengalami kecelakaan atau luka berdarah, paling tidak orang yang berada di dekatnya bisa memberi pertolongan pertama sebelum memanggil paramedis atau dibawa ke rumah sakit.




Rabu, 16 Februari 2011

Stres Dalam Kehamilan

STRESS

      Kalimat dan kondisi yang selalu mempengaruhi prilaku dan keberlangsungan hidup manusia atau seseorang. Sesungguhnya yang dimaksud dari (Pengertian) Stress adalah kemampuan diri dan penyesuai diri yang memerlukan response. Atau Stres istilah populer dari keadaan ketegangan dalam prilaku dan bentuk perasaan yang bergejolak menekan pusat syaraf berupa ketegangan.

TIORI TENTANG STRESS  
  1. Stress adalah reaksi individual, dapat mengagumkan tetapi juga dapat fatal
  2. Sumber stress/streal itu dapat dari dalam diri  maupun dari luar diri individu
  3. Gejala stress itu dapat dikenali dengan adanya:
  • Gangguan perhatian & konsentrasi
  • Perubahan emosi
  • Menurunnya rasa percaya diri
  • Timbul obsesi tak terkendali
  • Tiada motivasi
     4. Jenis stress itu ada Eustress ( stress yang dipacu dalam bentuk ketegangan dapat mematikan) ,dis-stres  adalah ancaman yang melumpuhkan cara berprilaku dan berfikir.
     5. Stress akan mempengaruhi prilaku sosial  dan individual

    MANAJEMEN MENGATASI STRESS
Harus digaris bawahi, yang perlu diatasi untuk menanggulangi stress  jenis Eustress atau stress yang   mematikan adalah dengan:
  1. Hasil belajar otomatis (menyanyi, berkumpul, tertawa, olah raga dan lain sebagainya)
  2. Membicarakan, diskusi, memikirkan bersama orang lain
  3. Berolah raga dengan teratur
  4. Mengembangkan teori toleransi
  5. Belajar mengenal dan membahas stresss dengan menarik diri dan kompromi dengan keadaan
  6. Koping strategi(Coping Mekanisem) dan meningkatkan toleransi
  7. Kaitannya dengan kesehatan mental adalah: 
         - Mengenali sumber stress
         - Meningkatkan teleransi terhadap setiap ketegangan yang timbul atau permasalahan yang di hadapi
         - Mengenali gejala-gejala
        - Memahami sumber daya yang dapat membantu kita mengatasi stress
Adapun faktor-faktor yang dapat menimbulkan keadaan stress  dalam keluarga atau anggota keluarga dan masyarakat adalah:
  • Baru mengandung (hamil) untuk pertama kalinya
  • Tidak memiliki pasangan
  • Pasangan pengangguran
  • Kemiskinan
  • Kurangnya dukungan sosial
  • Kehawatiran yang berlebih terhadap bayi atau anak
  • Memiliki pengalaman yang menyakitkan dalam kehamilan, persalinan atau hubungan seksual
  • Mempunyai keluarga yang tidak stabil atau kasar dimasa anak-anak dan remaja
  • Punya pengalaman negatif dalam berhubungan dengan profesional kesehatan selama kehamilan, melahirkan atau sakit ketika kecil.

Senin, 14 Februari 2011

Waspadai Penyebaran HIV/AIDS

       Waspadai Terhadap Penyebaran HIV/AIDS

   Jumlah penduduk Indonesia yang hidup dengan virus HIV diperkirakan antara 172.00 dan 219.00, sebagaian besar adalah laki-laki. Jumlah itu merupakan 0,1 % dari jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan. Menurut Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPA), sejak 1987 sampai Juni 2008, tercatat 12.686 kasus AIDS - 2.479 di antaranya telah meninggal.
   Lajimnya kejadian HIV dan AIDS merupakan fenomena Gunung Es, bila sebanyak 0,1% yang dinyatakan menderita dan mengidap HIV/AIDS tersebut berarti masih banyak lagi  melebihi  angka tersebut di antara masyarakat yang belum terdeteksi sebagai ODHA (orang dengan HIV dan AIDS). HIV masih merupakan ancaman utama bagi terlaksananya status kesehatan masyarakat yang optimal karena itu memerangi HIV dan AIDS termasuk agenda  Mellenium Development Gols (MDGs) yang ke-6.
    Penyebaran HIV dan AIDS di Indonesia masih terkonsentrasi pada golongan kelompok resiko tinggi yaitu para pengguna Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif lainnya (Napza), suntik (penasun) dan pekerja seks komersial. Akan tetapi sudah terlihat kecendrungan bahwa epidemi HIV/AIDS ini telah menjalar kepopulasi umum melalui penyebaran dari pengguna napza suntik ke pasangan seksnya. Penyebaran HIV tidak akan terjadi bila hanya dengan bergaul, bersentuhan bahkan berciuman dengan orang yang tertular HIV. Resiko terbesar adalah melalui kontak langsung dengan darah yang tertular atau melalui hubungan seks tanpa pelindung. Para pengguna narkoba beresiko tinggi karena mereka sering tukar menukar jarum, sehingga memungkinkan penularan dari sisa darah pada alat suntik yang baru digunakan dari satu orang ke orang lain.
    HIV/AIDS dapat beresiko terhadap epidemi yang meluas. Hal ini disebabkan rendahnya penggunaan kondom diperkirakan hanya sekitar 1,3% pasangan yang menggunakan kondom sebagai alat KB. Bahkan diantara para PSK, hanya sekitar setengah dari mereka yang menggunakan kondom oleh sebab itu HIV berpotensi menyebar dengan cepat dari para pengguna narkoba suntik dan para PSK, kepada para pelanggan pekerja seks dan kemudian kepada masyarakat umum. Menurut Departemen Kesehatan , pada tahun 2010 jumlah penduduk mengidap HIV berkisar mencapai setengah juta orang, bahkan satu juta  bila tidak ditangani secara serius dan efektif dapat dibayangkan bagai mana perkembangannya dimasa akan datang sementara prilaku penduduk semangkin tahun semangkin bertindak di luar batasan agama yang sudah seharusnya.
  Prioritas pertama upaya pencegahan di masyarakat adalah memberikan informasi sejelas-jelasnya kemasyarakat banyak akan semua fakta yang ditemui dalam penanggulangan hal ini. Misalnya ditemukan fakta bahwa banyak PSK mengaku bisa mengetahui bahwa pelanggannya tertular atau tidak hanya dengan melihat fisik dan kebiasaan pelanggan tersebut. Padahal faktanya adalah kita tidak dapat mengetahui seseorang terinfeksi HIV secara fisik jika memang  belum muncul gejala penyakit ketika sistem kekebalan tubuh sudah menurun (tahapan AIDS). Fakta lain menyebutkan sebuah survei terhadap remaja yang beranjak dewasa menunjukkan bahwa 40 % tidak mengetahui bagaimana menghindari HIV dan saat ini 1/3% dari remaja tersebut sudah melakukan hubungan seks diluar nikah. Selain itu kesadaran saja tidak cukup, seseorang yang telah memiliki informasi dasar (sekitar 66%; 61% wanita dan 71% pria- dari mereka dalam usia reproduksi, SDKI,2007) mungkin tidak akan merubah prilaku mereka ke hal-hal positif sesuai dengan anjuran kesehatan. Kebanyakan orang enggan menggunakan kondom dan malu membawa kondom kemana pun dia berada atau tepatnya lebih memilih berhubungan seks tanpa kondom dengan alasan ketidak nyamanan. Fakta lain menyebutkan masih banyak para suami yang telah berhubungan seks dengan PSK tanpa kondom lalu dengan tanpa perasaan bersalah dan berdosa melakukan hubungan seks dengan istri di rumah. Selain itu para ibu hamil yang terinfeksi HIV juga dapat menularkan ke anak yang baru dilahirkan melalui pemberian air susu ibu (ASI) kepada bayinya. Fakta lain juga menyebutkan bila sudah banyak komunitas yang terserang HIV maka apabila mereka membutuhkan jasa pelayanan kesehatan kemungkinan tertular kepada pemberi jasa misalnya bidan, perawat, dokter dan laboran pada saat kontak langsung dengan pasien HIV/AIDS dalam produk darah dan buangan eksresi yang terinfeksi. Bila pemberi jasa pelayanan kesehatan tersebut tidak berhati-hati  dalam harti tidak memperdulikan proses sterilisasi atau DDT  serta  karena human error juga dapat terjangkit HIV/AIDS tersebut. Walau sebenarnya hal ini dapat dengan cermat dicegah karena itu di harapkan dokter, perawat dan bidan tidak perlu enggan merawat orang yang terkena HIV bahkan AIDS asalkan selalu berpegang pada prinsif-prinsif perawatan dasar yang steril dan selalu dengan perhitungan yang akurat. guna melindungi diri sendiri.
    Untuk itu saya rasa tidak salahnya setiap orang yang berkesempatan memiliki atau terpapar fakta-fakta temuan di atas melakukan tes serta memperoleh konseling yang tepat. Hal ini berdampak positif yaitu jika seseorang mengetahui mereka positif terinfeksi HIV, mereka harus mengurangi kemungkinan menularkannya kepada orang lain khususnya pasangannya. Dan meskipun belum dapat disembuhkan , saat ini ada obat-obatan yang disebut  antiretroviral  yang dapat membantu mengendalikan laju penyakit tersebut. Seyogyanya antiretroviral ini gratis tetapi dalam praktek nya ada biaya pendaftaran dan biaya-biaya lain dan saat ini obat tersebut hanya tersedia di rumah sakit kota besar saja.
        Jika kita ingin mencegah meluasnya epidemi , perlu membahas penyakit HIV/AIDS ini secara terbuka dan jujur serta mengambil langkah-langkah praktis. Namun HIV dan AIDS menghadapkan kita pada pilihan keras dan sulit, selain kelompok beresiko , kita juga harus beranggapan bahwa pada akhirnya semua orang beresiko terpajan penyakit inin, dengan demikian akan dapat dibentuk pendekatan yang berpeda dan mengarah pada pendekatan yang lebih tepat untuk mengambil langkah -langkah perlindungan yang diperlukan. Hal lain yang mempersulit keadaan.  Waspadailah  HIV/AIDS sebagai suatu masalah utama .Tanamkan permasalahan dimana kita saat ini memiliki kesadaran yang rendah akan arti hidup sehat, bersih dan teratur serta sesuai dengan aturan agama serta rendahnya kesadaran akan isu-isu HIV/AIDS serta terbatasnya layanan untuk menjalankan tes dan pengobatan. Kurang pengalaman untuk menanganinya dan adanya anggapan bahwa ini hanyalah masalah pada kelompok resiko tinggi ataupun mereka yang sudah tertular saja . Stigma yang kuat dimana masih menganggap bahwa HIV hanya akan menular pada orang-orang yang tidak bermoral saja harus kita ubah. Sudah menjadi keharusan kita bahwa masalah ini merupakan  masalah bersama dan harus ditanggulangi secara bersama pula. Kondisi ini dapat kita lihat bila dibandingkan dengan respon masyarakt terhadap penyakit lainnya seperti Hepatitis, malaria dan Tuberculosis. dinama masyarakat lebih mudah dilibatkan karena tidak ada stigma dan diskriminasi terhadap penyakit-penyakit tersebut.
     Harus komitmen kita  bahwa target MDGs untuk HIV dan AIDS adalah menghentikan laju penyebaran serta membalikkan kecendrungannnya pada tahun 2015. Saat ini kita belum dapat mengatakan telah melakukan dua hal tersebut karena di hampir semua daerah di Indonesia keadaannya tidak terkendalikan. Untuk mencapai target MDGs tersebut diperlukan suatu upaya besar-besaran dan terkoordinasi dengan baik di tingkat Nasional antara pemerintah, swasta , pemberi pelayanan kesehatan, tokoh agama dan masyarakat itu sendiri dalam  hal ini kita beruntung memiliki Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) yang aktif sehingga di harapkan tindakan mewaspadai HIV/AIDS bahkan pencapaian target memerangi HIV/AIDS dapat berjalan dengan baik dan semestinya.



 

Selasa, 08 Februari 2011

PEMBANGUNAN KESEHATAN INDONESIA

PEMBANGUNAN KESEHATAN
   Indikator  keberhasilan pembangunan kesehatan ditentukan oleh upaya kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan dasar (puskesmas). Dalam pembangunan kesehatan ada beberapa indikator yang dijadikan acuan untuk menilai derajat kesehatan masyarakat yaitu:
  1.  Indikator berdasarkan angka mortalitas yang digunakan berupa Angka Kematian Ibu  Melahirkan (AKI)/ 100.000 kelahiran hidup, Angka Kematian Bayi (AKB)per-1000 kelahiran hidup, Angka Kematian Balita (AKABA) per-1000 kelahiran hidup dan Angka Harapan Hidup Waktu Lahir
  2. Indikator berdasarkan angka morbiditas yang digunakan berupa Angka Kesakitan Malaria per-1.000 penduduk, Angka kesembuhan  TB Paru BTA +, Prevalensi HIV (Persentase kasus terhadap penduduk berisiko), Angka Acute Flacid Paralysis (AFP) pada anak usis < 15 tahun per-100.000 anak, angka kesakitan demam berdarah dengue (DBD) per-100.000 penduduk
  3. Status gizi dilihat dari indikator persentase balita dengan status gizi di bawah merah pada KMS dan persentase Kecamatan bebas rawan gizi
  4. Proporsi kasus ibu hamil resiko tinggi yang dirujuk untuk mencapai tingkat derajad kesehatan masyarakat yang optimal.

      Kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu kewaktu dapat memberi gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat atau dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya.
       Misi pembangunan kesehatan adalah mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat. Oleh sebab itu, penyelenggaraan pembangunan kesehatan didasarkan pada prinsip pemberdayaan dan kemandirian masyarakat. Pemberdayaan masyarakt berupaya memfasilitasi percepatan dan pencapaian derajat kesehatan bagi seluruh penduduk dengan mengembangkan kesiapsiagaan ditingkat desa dan kelurahan yang disebut desa dan kelurahan siaga aktif.
       Program pencapaian pembanguanan kesehatan yang optimal hanya dapat berjalan sukses bila pemerintah mampu melakukan pengembangan masyarakat. " menurut Bhattacarya" Pengembangan masyarakat adalah pengembangan manusia yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan manusia untuk mengontrol lingkungan. Pengembangan masyarakat merupakan usaha membantu manusia mengubah sikapnya terhadap masyarakat, membantu menumbuhkan kemampuan berorganisasi, berkomunikasi dan menguasai lingkungan fisiknya. Manusia didorong untuk mampu membuat keputusan, mengambil inisiatif dan berdiri sendiri.
Lebih jelasnya anda dapat membaca tentang penerapan Strategi dan Perencanaan Kesehatan Indosesia sesuai program pemerintah saat ini  klik disini....materi strategi pembangunan kesehatan pdf
      Pembangunan Kesehatan hanya dapat terlaksana bila kita semua ikut berperan aktif untuk saling isi dan membantu antara pemerintah, swasta, instistusi pendidikan dan institusi yang bergerak dibidang pelayanan kesehatan bersama-sama masyarakat sebagai sumber sasaran pembangunan kesehatan tersebut.
    Saya menghimbau kita semua marilah bersama kita dalam mewujudkan pembangunan kesehatan tersebut karena hanya dengan sikap legowo dan saling isi negara kita yang masih dalam garis negara yang belum maju akan terangkat. Karena Kesehatan adalah aset kita bangsa Indonesia maka haruslah kita jaga. Semoga Allah selalu merestui usaha dan upaya kita. Amin.

Jumat, 04 Februari 2011

bahan makalah Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat

bahan makalah Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat

Abstraks
Keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualtias, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat dan kesehatan yang prima disamping penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekurangan gizi dapat merusak bangsa.
Tujuan dari analisis adalah untuk mengetahui kecenderungan masalah gizi dan kesehatan masyarakat serta determinan yang mempengaruhi masalah ini.
Analisis menggunakan data utama dari Susenas 1989 sampai dengan 2003, dan data lainnya yang mempunyai informasi status gizi dan kesehatan masyarakat. Kajian dilakukan juga berdasarkan perbedaan antar kabupaten, antar provinsi, serta perbedaan antara perkotaan dan perdesaan. Cara “Bivariate dan Multivariate” analisis diaplikasikan pada penulisan ini untuk menjelaskan perubahan status gizi dan kesehatan masyarakat serta determinannya untuk dapat memberikan rekomendasi pada kebijakan program perbaikan gizi dan kesehatan masyarakat dimasa yang akan datang.
Hasil kajian ini secara umum menunjukkan bahwa masalah gizi dan kesehatan masyarakat masih cukup dominan. Dari indikator kesehatan, walaupun terjadi peningkatan status kesehatan yang ditandai dengan meningkatnya umur harapan hidup, dan menurunnya angka kematian bayi dan balita, akan tetapi masih tercatat sekitar 24% kabupaten/kota dengan angka kematian bayi >50 per 1000 lahir hidup. Penyebab kematian memasuki tahun 2000 masih didominasi penyakit infeksi dan meningkatnya penyakit sirkulasi dan pernafasan. Masih rendahnya status kesehatan ini antara lain disebabkan karena faktor lingkungan atau tercemarnya lingkungan air dan udara. Disamping itu, faktor perilaku juga berpengaruh untuk terjadinya penyakit kronis, seperti jantung, kanker, dan lain-lain. Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada penduduk. Mulai dari bayi dilahirkan, masalahnya sudah mulai muncul, yaitu dengan banyaknya bayi lahir dengan berat badan rencah (BBLR<2.5 Kg). Masalah ini berlanjut dengan tingginya masalah gizi kurang pada balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa sampai dengan usia lanjut. Hasil kajian lain yang tidak kalah pentingnya adalah semakin jelasnya fenomena “double burden” yang menimpa penduduk Indonesia terutama di wilayah perkotaan, ditandai dengan semakin meningkatnya masalah gizi lebih, serta meningkatnya proporsi ibu dengan gizi lebih yang mempunyai anak pendek atau kurus. Makalah ini juga mendiskusikan asumsi penurunan masalah gizi sampai dengan 2015 dengan berbagai alternatif intervensi.
Peningkatan SDM ini untuk masa yang akan datang perlu dilakukan dengan memperbaiki atau memperkuat intervensi yang ada menjadi lebih efektif, bermanfaat untuk kelompok sasaran terutama penduduk rawan dan miskin. Perbaikan kualitas pelayanan kesehatan dan gizi pada penduduk menjadi prioritas, selain meningkatkan pendidikan dan mengurangi kemiskinan, terutama pada kabupaten/kota yang tingkat keparahannya sangat berat. Pelayanan kesehatan dan gizi untuk yang akan datang juga harus memperhatikan pertumbuhan penduduk perkotaan yang akan membawa berbagai masalah lain. Dengan peningkatan kualitas intervensi kepada masyarakat, diasumsikan penurunan masalah gizi dan kesehatan masyarakat dapat tercapai.